DIJAWAB OLEH: ENCE SURAHMAN (0800201)
MAHASISWA SEMESTER IV KONSENTRASI PENDIDIKAN GURU TIK
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TAHUN AKADEMIK 2010
SOAL DAN JAWABAN.
1. Proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dapat mendorong dan membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan secara berpikir ilmiah serta menanamkan tugas saudara, Jelaskan model pembelajaran apa ( dapat lebih dari satu) yang dapat membentuk kemampuan siswa tersebut, dikaji dari) 1. Konsep, 2, karakteristik dan filsafatnya 4, tingkat (usia) berapa tahun sebaiknya siswa menguasi kemampuan tersebut
Jawaban:
Model-model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan berpikir ilmiah siswa.
a. Model pembelajaran berbasis masalah (PBM)/ (Learning Basic Problem Model)
Pembelajaran berbasis masalah adalah pola pembelajaran individu yang menuntut individu itu untuk mengembangkan kemampuan dirinya dalam menggunakan intelegensinya untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan konstektual. Dalam artinya melalui model belajar ini diharapkan kemampuan pemecahan masalah yang baik pada diri siswa, hal ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi berbagai terjangan badai kehidupan yang akan dilaluinya baik sekarang ataupun nanti.
Karakterisitik model pembelajaran berbasis masalah merujuk pada pemikiran Dr. Rusman, M.Pd, diantaranya:
permasalahan menjadi starting point dalam belajar, apapun bahan ajarnya pastikan masalah senantiasa hadir diawal,
kemudian permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada didunia nyata yang tidak terstruktur, artinya permasalahan yang ruwet sehingga butuh pemikiran untuk menyelesaikannya,
permasalahan yang membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective) hal ini dimaksudkan agar siswa bisa menganalisis dengan cara apa penyelesaiannya.
permaslahan yang harus menantang pengetahuan siswa, sehingga siswa berusaha keras untuk menemukan cara dan solusi untuk menyelesaikanya.
karakteristik lain adalah adanya belajar pengarahan diri, hal ini diperlukan agar diri seorang pelajar senantiasa terarahkan, jangan mudah goyah dan terpengaruh tapi harus senantiasa ada pada jalur yang seharusnya,
belajar dipandang kolaburatif, komunikatif dan kooperatif. Sehingga siswa bisa mengasah kemampuan berpikirnya, secara simultan.
Untuk batasan usia minimal siswa mulai diberikan pola belajar berbasis masalah sebaiknya jangan terlalu dini. Melainkan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dirinya. Mengapa demikian, karena kalau masalah itu diberikan kepada yang tepat khawatirnya akan mengundang masalah lain, yang dengan begitu siswa menjadi merasa tertekan sehinga akan kebingungan, jangankan mampu menyelesaikan masalah sebaliknya malah menjadi trauma dengan suatu masalah. Tapi bukan berarti suatu masalah tidak diperbolehkan diberikan kepada seorang anak kecil, melainkan porsi pemberian masalahnya jangan terlalu berat tapi harus sesuai dengan tingkat perkembangan dirinya. Semakin tinggi semakin komplit masalah yang diberikannya. Untuk usia sepertinya mulai dari anak masuk kekelas 4 SD kurang lebih pada usia 10 tahunan, dan yang lebih baik diberikan kepada pelajar remaja atau dewasa muda.
Adapun model lain yang bisa mengembangkan kemampuan siswa mengasah kemampuan berpikir ilmiahnya adalah
b. Model Pemrosesan Informasi
Ialah model pembelajaran yang berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi mulai dari menerima dari lingkungan, kemudian mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep seta menggunakan symbol verbal dan visual, asumsi dari model belajar ini bahwa pembelajaran merupaan faktor yang sangat penting dalam perkembangan (Rusman). Teori ini dipelopori oleh Robert Gagne (1985).
Karakteristik dari model pemrosesan informasi ini adalah
Membantu mengembangkan kemampuan berpikir siswa
Melatih inquiry siswa, untuk mencari dan menemukan informasi yang diperlukannya
Pembentukan konsep, untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif, mengembangkan konsep dll,
Model pengembangan, untuk mengembangkan intelegensi umum pada diri siswa.
Model lainnya adalah model pembelajaran Inquiry, yaitu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk senantiasa mencari dan menemukan semua kebutuhan yang diperlukannya, dalam hal ini maka secara tidak langsung pola berpikirnya akan terasah. Mereka akan terbiasa menggunakan kemampuan nalarnya mencari dan menemukan segala sesuatunya yang mereka cari.
Dengan model pembelajaran Inquiry ini siswa akan semakin tajam mengembangkan kemampuan berpikir ilmiahnya.
2. Model pembelajaran CTL merupakan bagian dari model pembelajaran yang harus diimplementasikan dalam pendekatan KTSP, coba saudara jelaskan 1) Konsep, 2). Prosedur, 3) filsafat dan teori belajar yang dianutnya
Jawaban:
a. Konsep Pembelajaran Konstektual (Consept of Contextual Teaching Learning)
Setelah mengkaji berbagai pendapat beberapa ahli pendidikan yang berargumen tentang model pembelajaran konstektual, menurut saya pembelajaran konstektual (contextual learning) adalah pola pembelajaran yang menekankan ada proses interaksi yang simultan antara pengetahuan dalam ranah kognitif yang dihubungkan dengan konstek atau realita dilapangan. Hal ini akan sangat memungkinkan siswa banyak berinteraksi dengan lingkungannya, juga akan melatih kemampuan nalar siswa untuk menjembatani otak dengan lingkungan, dan ini sangat baik untuk melatih kemampuan inquiry siswa.
Terkait dengan pembahsan konsep CTL. Dalam CTL terdapat beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan diantaranya 1. Konstruktivisme, 2. Menemukan (inqiry), 3. Bertanya, 4. Masyarakat belajar, 5. Pemodelan, 6. Refleksi dan penilaian sebenarnya.
b. Prosedur Skenario Pembelajaran Konstektual (CTL)
Dalam mengaplikasikan model pembelajaran konstektual, maka harus dipahami terkait ada beberapa langkah skenario yang harus dikembangkan dan diperhatikan yang kemudian ini bersifat procedural harus diterapkan dalam pembelajaran, adapun prosedur skenario yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Mengembangakn pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar yang lebih bermakna baik dengan belajar sendiri, atau menemukan sendiri dan mengkonstruksi pengalaman belajar sendiri wawasan dan pengalaman yang harus dimilikinya
2. Kemudian melakukan upaya penemuan (inquiry) sejauh mungkin untuk semua topik yang diajarkan
3. Selanjutnya perlu untuk mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan dimunculkannya berbagai pertanyaan-pertanyaan
4. Kemudian membuat lingkungan masyarakat belajar, dalam artinya dimana ada siswa disitu ada fasilitas dan sarana berlajar bisa dengan diskusi, bedah atau kaji buku dsb
5. Prosedur yang selanjutnya adalah menghadirkan sosok model untuk menguatkan pemahaman siswa terkait dengan materi yang dibahas. Bisa dibawa ilustrasinya atau mungkin dibawa langsung.
6. Hal penting yang harus diperhatikan adalah membiasakan siswa untuk selalu melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan
7. Dan yang terakhir adalah melakukan penilaian yang objektif, yaitu mengukur kemampuan yang sebenarnya atas diri siswa.
c. Filsafat dan Teori Belajar yang Dianut
Kalau kita perhatiakn secara seksama dari model pembelajaran konstektual ini, maka kita bisa langsung untuk kemudian memperkirakan bahwa model pembelajaran konstektual itu sendiri muncul sebagai hasil-hasil dari proses inovasi pendidikan. Artinya model pembelajaran ini memiliki kekhasan tersendiri, yang mana saya sendiri menyimpulkan bahwa model pembelajaran ini merupakan penggabungan atau keterpaduan dari berbagai aliran filsafat yang melandasi dan teori belajar yang berbeda pula.
Adapun teori belajar yang melandasi munculnya model pembelajaran konstektual diantaranya adalah teori belajar behaviorisme, hal ini mengapa? Karena konsep stimulus respon dalam model inipun masih cukup berkenaan walaupun sedikit. Kemudian teori belajar humanistic juga bisa, karena dalam konstektual dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan, termasuk didalamnya pola hubungan antara manusia.
3. Simulasi merupakan bagian dari model pembelajaran yang sering digunakan dalam membentuk kemampuan siswa.
Coba saudara jelaskan 4 model simulasi dilihat dari karakteristiknya.
Jawaban;
Konsep Model Simulasi
Model pembelajaran simulasi dapat diartikan serangkaian proses pembelajaran dengan menggunakan bantuan objek tiruan (bukan objek sebenarnya) yang mendekati suasana yang sebenarnya dan berlangsung dalam suasana yang tanpa resiko.
Model simulasi ini digunakan untuk mempermudah penyampaian informasi yang susah jika peragaan objek yang dibicarakannya dihadirkan langsung, maka menggunakan simulasi yang akan menjelaskan maksud dari materi yang disampaikan.
Tujuan dari model pembelajaran simulasi ini adalah (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar kepada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
Adapun karakteristik dari model pembelajaran simulasi ialah:
1. Sintakmatik
Model ini memiliki cirri berurutan, sistematis, langkah-langkahnya bertahap, dan tidak bisa tumpang tindih, harus senantias mengikuti alur atau algoritma langkah. Adapun tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Tahap I. Orientasi
Pada tahap ini meliputi (1) menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi. (2) menjelaskan prinsip Simulasi dan permainan. (3) memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
Tahap II. Latihan bagi peserta
Pada tahap ini peserta diberikan latihan-latihan (1) membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai. (2) Menugaskan para pemeran dalam simulasi (3) mencoba secara singkat suatu episode.
Tahap III. Proses simulasi
Tahap ini meliputi (1) melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut. (2) memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap performan si pemeran. (3) menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional (4) melanjutkan permainan/simulasi
Tahap IV. Pemantapan dan debriefing
Pada tahap ini meliputi (1) memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi. (2) Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para peserta.(3) menganalisis proses (4) membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata. (5) menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran. (6) menilai dan merancang kembali simulasi.
2. karakteristik kedua adalah Sistem Sosial
Didalam simulasi, pengajar harus dengan sengaja memilih jenis kegiatan dan mengatur siswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses. Karena itu, model ini termasuk model yang terstruktur. Namun demikian, kerjasama antar peserta sangat diperhatikan. Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari siswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini.
3. Prinsip reaksi/pengelolaan
Dalam model ini, pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator. Dalam keseluruhan proses simulasi, pengajar bertugas dan bertanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjukkan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif. Dalam hal ini, pengajar bertugas untuk lebih dahulu mendorong pengertian dan penafsiran para siswa terhadap isi dan makna dari simulasi tersebut.
4. Sistem Pendukung
Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi, mulai dari yang paling sederhana dan murah, ke yang paling kompleks dan mahal. Misalnya bila sarana yang dipergunakan berupa simulator elektronik, tentu hal ini memerlukan biaya yang besar. Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah berupa kartu ataupun kelereng, tentu sangat murah
5. Dampak Instruksional dan Pengiring
Setelah langkah-langkah diatas terlewati maka feedbacknya adalah adanya dampak dari pembelajaran, yang telah dilakukan.
Dalam model ini guru memiliki 3 peran, yaitu sebagai penjelas tentang model yang diberlakukannya, kemudian mengawasi dan sebagai pelatih.
4. Dalam membentuk kemampuan afektif memerlukan model pembelajaran yang spesifik.
Coba jelaskan minimal 3 model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran afektif, jelaskan karakteristiknya.
Jawaban:
Sadar ataupun tidak, sampai saat ini pembelajaran yang dilakukan diberbagai lembaga pendidikan konvensional apapun bentuk dan tipenya, pembelajaran lebih banyak cenderung mengarah pada satu kemampuan saja yaitu kemampuan secara kognitif, padahal sebagaimana kita fahami bersama bahwa minimal terdapat 3 ranah yang harusnya tersentuh untuk dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Teori Bloom dkk). Dalam konsep Islam 3 ranah ini ialah Otak (fikriyah), hati (ruhaniah, akhlak), dan jasadiah.
Pertanyaannya adalah apakah dikarenakan para pendidik kita tidak menguasi cara atau strategi pembelajaran untuk mengembangkan ranah afketif? Ataukah memang pola pendidikan yang dilakukannya masih banyak mengurusi ranah kognitif saja?
Berikut ini adalah model-model pembelajaran afektif yang saya ulas merujuk pada pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (2005):
a.
Model pembelajaran konsiderasi (consideration learning model)
Kebanyakan manusia terkadang bersifat egois, mementingkan dirinya sendiri, tidak pernah peduli dengan orang lain, bahkan teman dekat sekalipun. Hal ini merupakan masalah yang berkenaan dengan afektif seseorang. Maka dengan pembelajaran konsiderasi, siswa didoroang untuk lebih peduli, lebih peka dengan msalah yang dihadapi orang lain. Sehingga akan memunculkan dan menumbuhkan sifat peduli dengan orang lain, bahkan bisa sampai pada tingkatan (itsar; bahasa arab) yaitu suatu sifat yang lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran konsiderasi adalah (1) menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi, (2) meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain, (3) siswa menuliskan responsnya masing-masing, (4) siswa menganalisis respons siswa lain, (5) mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya, (6) meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
b. Klarifikasi nilai (value clarification model)
Pada dasarnya semua orang memiliki sejumlah nilai, baik yang terlihat ataupun tersembunyi.
Model pembelajaran ini bertujuan membantu siswa untuk membantu siswa menemukan nilai-nilai yang dimiliki dirinya, kemudian memilih mana yang baik dan tidaknya, lalu merefleksikannya, langkah-langkah model ini adalah (1) pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya, (2) mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya, (3) berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya.
c. Pengembangan Moral Kognitif
Pada dasarnya perkembangan moral manusia adalah sejalan dengan perkembangan kognitifnya. Maka dengan model ini, siswa akan diberikan cara bagaimana mengembangkan kemampuan untuk mempertimbangkan antara moral dengan kognitifnya, adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah (1) menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai, (2) siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu, (3) siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya, (4) siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, (5) siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.
Selain ketiga model spisifik diatas, masih ada dua model lagi yaitu:
d. Model Nondirektif,
Model pembelajaran ini dilakukan oleh guru secara tidak langsung kepada siswa, namun ketika siswa menangkap makna pesan dari guru tersebut maka siswa akan mengapliksikannya, misal guru memberikan apresiasi bagi siswa yang mengerjakan tugas tepat waktu dengan baik, maka siswapun secara tidak langsung akan meniru perilaku guru yang bersangkutan tersebut.
e. Model Pembentukan Rasional
Adapun model pembentukan rasional lebih menekankan pada pengembangan rasio/logika berpikir siswa. Karena pada hakikatnya rasio itu akan menerima, dengan begitu siswa akan bersikap sebagaimana kebenaran yang dibenarkan oleh logika berpikirnya.
5. Efektifitas keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan diantaranya sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang diterapkan. Jelaskan karakteristik pembelajaran apa saja yang saudara ketahui untuk pelatihan tersebut.
Jawaban:
Sebagaimana kita ketahui dalam capaian keberhasilan proses belajar seseorang.
Menurut hasil penelitian Dryden dan Voss, 2000, menunjukan kepada kita bahwa 10% dariyang kita baca, 20% dari yang kita dengan, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari yang kita ucapkan, 90% dari yang kita ucapkan dan dengarkan, dan 95% dari yang kita ajarkan kepada orang lain. Maka jelas bahwa pembelajaran yang baik adalah yang mampu melatih pembelajar untuk belajar langsung mengajarkan kepada orang lain. Dalam hal ini proses pembelajaran yang terbilang lebih efektif adalah dengan kegiatan belajar pelatihan (training model learning).
Dengan model pembelajaran pelatihan, maka yang bekerja dalam diri pelajar bukan hanya satu ranah saja, melainkan kompilasi dari berbagai ranah, afektif, kognitif dan psikomotor, bahkan yang luarbiasa adalah bersatunya emosi untuk belajar sungguh-sungguh.
Berikut ini adalah karakteristik pembelajaran untuk tipe pembelajaran pelatihan. Diantaranya:
a. Proses pembelajaran melibatkan proses mental pelajar secara maksimal, bukan hanya menuntut untuk membaca, mencatat, akan tetapi menghendaki peserta didik untuk berpikir.
b. Dalam proses pembelajaran terjadi proses komunikasi multi arah, multi dimensi, hal ini akan membantu peserta didik mengkonstruksi kemampuannya,
c. Kemudian skenario penyajian materi dari seorang pelatih harus dengan sistem modular dengan mengacu pad taksonomi bloom,
d. Yang tidak kalah penting adalah memberikan indicator keberhasilan pelajar dalam mempelajari materi pelatihan,
e. Materi yang diberikan sebaiknya banyak menggunakan berbagai media (audio, visual, ataupun audiovisual/multimedia), karena dengan begitu pelajar akan mengerti sendiri bahan yang sedang dipelajarinya.
f. Dalam pembelajaran pelatihan, maka lebih baik siswa dituntut belajar mandiri, untuk mengkonstruksi kemampuan dirinya.
Selain karakteristik belajar diatas, berikut ini adalah prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, diantaranya mengalami, interaksi, komunikasi, refleksi, mengembangkan keinginyahuan, imajinasi dan fitrah bertuhan, mengembangkan potensi peserta didik, memanfaatkan pengalaman awal peserta didik, menyenagkan peserta didik, tugas yang menantang, pemberian kesempatan belajar, belajar untuk kebersamaan, dan pengembangan multi kecerdasan.
Sumber Inspirasi:
1. Buku Pak Rusman, berjudul Manajeman Kurikulum,
2. Buku Perkuliahan model-model pembelajaran yang ditulis oleh Pak Toto dan Pak Rusman
3. Bahan Diskusi kelas dengan teman-teman mahasiswa
4. File-file (makalah, modul, ppt) dari internet
Komentar
Posting Komentar
You can give whatever messages for me,,