WELCOME

Bismillah nujadi wiwitan, sangkan jadi pamuka carita, pengeumat aworna kedal ucap jeung amal, kalayan diwuwuh kecap alhamdu nu mangrupa tawis syukur ka Allah Nu Maha Ghofur, nu tos nakdirkeun salira dugi ka blog simkuring, manawi bahan katampi kalayan kabingahan, haturnuhun.

Jumat, 17 Desember 2010

ISTIQOMAH

Apa, mengapa dan bagaimana?
Oleh: Jaisyurahman
Definisi:
Istilah istiqomah sering sekali kita dengar. Dalam berbagai diskusi, kajian, atau hanya dalam pembicaraan biasa. Baik dari kalangan ulama, ust. Atau orang-orang biasa juga sering menyebutkan istilah ini. Secara sepintas orang orang mengartikan istilah istiqomah dengan kata konsistent atau teguh pendirian.
Sekarang mari kita tinjau dari sisi bahasa. Dalam Buku Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab menjelaskan bahwa istilah istiqomah berasal dari qama yang pada mulanya berarti lurus/tidak mencong. Kata ini kemudian dipahami dalam arti konsisten dan setia melaksanakan apa yang diucapkan.
Tinjauan terhadap salahsatu ayat tentang istiqomah, kata istiqomah bisa ditemui salahsatunya dalam al-qur’an surat Al-Fushshilat ayat 30:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Pengertian diatas sesuai dengan pengertian yang ditulis oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya. Artinya Ibnu katsir menerjemahkan istilah Istaqamuu, dengan arti meneguhkan pendirian. Sementara Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah beliau menerjemahkan sebagai berikut:
“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami hanyalah Allah”- kemudian mereka beristiqomah , maka akan turun kepada kepada mereka malaikat-malaikat; “Janganlah takut dan janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu”
Quraish Shihab menjelaskan huruf sin dan ta’ pada pada kata istaqamu dipahami oleh banyak ulama dalam arti kesungguhan. Sementara Al-Biqa’i memahaminya dalam arti permohonan,
Ayat lain yang menjelaskan tentang istilah istiqomah dalam surat Hud ayat 112;
             
Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

MENGAPA HARUS ISTIQOMAH?
Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya hidup didunia ini dijaman ini sangatlah berat. Berat yang saya maksud adalah berat untuk menjadi orang yang bisa konsistens dengan keislaman dan keimanan kita. Saya bisa menunjukan bukti ril mengapa saya katakan zaman sekarang ini sangat sulit kita berpegang teguh pendirian dengan komitmen kita sebagai muslim. Bukti konkritnya adalah mayoritas pemuda muslim yang tengah terbuai oleh fantasi dunia. Mereka tergerus dengan gemerlap dunia yang menyilaukan. Dan mereka jauh dari tugas dan kewajibannya sebagai muslim, banyak pemuda atau remaja yang melalikan kewajibannya seperti shalat wajib, shaum wajib, belajar agama, mereka semua telah lupa dengan kewajiban mereka. Kebanykan lebih memilih hidup hedon (mementingkan kesenangan semata). Mereka lebih memilih materialistik sikap lebih suka dengan hal-hal yang barbau materi, kesuksesan seseorang diukur hanya dengan kemampuan materinya. Orang dikatakan sukses ketika orang itu mapan secara materi, dan orang dikatakan gagal ketika materinya tidak berhasil. Mereka tengah mengesampingkan hal-hal yang lebih utama seperti ilmu, kesholeha dan kebermanfaatan dirinya untuk orang lain. Selain itu permasalahan umat saat ini adalah sikap individualistis. Sikap mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan mengesampingkan yang lain.
Dari sekian banyak permasalahan yang ada maka itulah yang memberatkan kita untuk mengajak orang untuk berbuat sesuai dengan yang seharusnya. Sesuai dengan tugas dan kewajibannya.
Selanjutnya kita sebagai seorang muslim maka berikut ini adalah beberapa alasan mengapa kita harus beristiqomah dalam keislaman kita, beberapa alasan yang saya maksudkan adalah sebagai berikut:
1. Karena ada Syetan dan nafsu yang menjerumuskan’
Saudaraku ketahuliah bahwa sesunggunya kita hidup didunia ini tidak sendirian melainkan ada jin, ada syetan dan juga dalam diri kita ada nafsu yang mendorong kita kepada jalan yang tidak diridhoi. Maksud nafsu dalam hal ini adlah nafsu yang menjerumuskan.
2. Karena manusia memiliki 2 sifat (baik dna buruk)
Inipun menjadi salahsatu alasan mengapa kita harus istiqomah. Dalam diri kita ada sifat baik dan juga ada sifat buruk. Keduanya saling menarik satu sama lain. Maka ketika kebaikan yang ada dalam diri kita sedang melemah, maka kita akan tertarik dengan keburukan. Dan sebaliknya ketika kebaikan yang kuat maka keburukan yang akan kalah. Inilah pentingnya ktia istiqomah dalam kebaikan.
3. Karena kita masih hidup
Saudaraku tahukah bahwa sebaik-baik manusia selama ia masih hidup masih ada peluang menjadi orang yang tidak baik, dan seburuk-buruk manusia selama ia masih hidup maka masih ada peluang jadi orang baik. Maka istiqomah dijalan kebaikan menjadi hal penting yang harus diutamakan. Agar kita bisa konsisten dalam kebaikan.
4. Karena sebaik-baik akhir hidup adalah husnul khotimah, adapun untuk memperoleh husnul khotimah itu perlu istiqomah. Saudaraku ketahuilah bahwa husnul khotimah adalah hidayah dari Allah, dan bukan pemberian yang Cuma-Cuma artinya ketika kita menginginkan mati dalam husnul khotimah maka pastikan setiap saat dalam waktu kita digunakan dalam kebaikan agar mudah-mudahan Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan istiqomah dijalan yang benar. Karena kita tidak tahu kapan dan dimana Allah akan mencabut nyawa kita.
5. Karena iman itu Yajidu walayangkus ada saat di atas dan dibawah.
Saudaraku ketahuilah bahwa iman kita (manusia) itu naik turun. Ada saatnya naik dan ada saatnya turun. Sebagaimana dalam sebauh keterangan al-imanu yazidu wayankus “iman itu naik dan turun”.
Saudaraku makna istiqomah adalah tanpa alasan. Artinya artinya ketika sesorang sudah ber’azam untuk beristiqomah. Maka tidak ada alasan untuk tidak melakukan sesaui dengan azamnya itu. Contoh ril

Referensi:
1. Tafsir Al-misbah
2. Ringkasan tafsri Ibnu Katsir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

You can give whatever messages for me,,

Entri Populer