Kawan, Hidup Itu Pahit, Maka Buatlah Menjadi Manis

02.53.00



Oleh : Ence Surahman



Dua hari yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan istimewa dalam hidup saya, selepas saya mandu acara wisuda santri Pesantren Tahfidz Sekolah Daarul Qur’an International Bandung. Saya langsung berangkat camping untuk menghadiri acara Nyalasar (Nyantri Latihan Dasar) sebuah program pendidikan dan latihan dasar untuk para calon anggota muda MATAGIRA (Moslem Adventure Association of Giri Ranggah) yang bertempat di Kawasan Hutan Sanggara Kabupaten Bandung Barat yang Berbatasan dengan Kabupaten Subang Jawa Barat.
Dalam salah satu momentum, saya katakan kepada teman-teman saya sembari berbicang ringan namun semoga penuh arti. Saya katakan “kawan, tahukah engkau, bahwa sesungguhnya hidup itu, sulit, pahit dan bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani, maka jadilah pribadi yang senantiasa pandai menata diri agar hidup itu menjadi manis dan kita bisa menikmatinya dengan begitu kita bisa mencapai tujuan hidup yang kita cita-citakan yakni hidup bahagia, baik di dunia maupun diakhirat”.
Awalnya saya hanya iseng menyampaikan hal itu, namun ternyata kata-kata itu akhirnya merasuk kepada hati sanubari beberapa teman-teman yang saat itu mendengarkan kata-kata saya. Sampai akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya dalam artikel ini. Tentu saya berharap ada manfaat dan pelajaran yang berarti bagi siapapun yang membacanya.
Mungkin ada diantara anda yang bertanya “mengapa hidup itu dikatakan sulit, pahit dan tak mudah menjalaninya?” pertanyaan itu persis seperti pertanyaan beberapa teman saya ketika camping tempo hari, merekapun bertanya hal yang sama, seolah tak percaya dan tak mau mendengar kalau ternyata hidup itu begitu pahit dan sulit.
Maka saya katakan kepada semuanya termasuk anda pembaca yang baik hati, mengapa saya katakan hidup itu sulit, pahit dan tak mudah untuk menjalaninya?, bayangkan saja sahabat, hidup dizaman ini, kita semua bertemu dengan berbagai keadaan yang tidak mudah. Saya ambil contoh sederhana, untuk bisa hidup dan bertahan dalam kehidupannya, seseorang harus bekerja keras, misalnya seorang ayah harus bekerja keras untuk berusaha mencari nafkah agar anak dan istrinya bisa makan dengan lahap. Tidak sampai disitu, bahan pokok dan bahan makanan yang harganya semakin menggunung tinggi menjadi salah satu masalah tersendiri.
Sementara lahan pekerjaan dan upah bekerja yang diterima kebanyakan  jauh dari standar kebutuhan minimun. Coba sahabat hitung sendiri, upah minimum para pekerja berkisar antara 1,3-2,6 juta perbulan, sementara itu harus menanggung semua kebutuhan anak istrinya, masih mending kalau misalnya istrinya juga punya penghasilan, nah kalau tidak bagaimana? Sementara kebutuhan perbulan saya yakin jauh dari angka upah minimun tersebut. Jangankan mereka yang sudah berkeluarga, saya sendiri yang masih menyendiri pengeluaran perbulan rata-rata lebih dari 2,2 juta. Lalu bagaimana dengan mereka yang punya banyak anak dan anaknya banyak kebutuhan?. Tidak mudah bukan?
Mungkin berbeda cerita bagi mereka yang sudah diberikan rizki yang lapang oleh Allah, namun tetap saja saya katakan mereka juga menemukan kesulitan dalam hidupnya, buktinya tidak sedikit orang yang secara materi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia, mereka gagal membangun keluarga yang diimpikannya, mereka gagal mendidik dan mengurus anak-anaknya, kesimpulannya ternyata hidup itu masih saya pahit bagi yang berlimpah secara materipun.
Terlebih perkembangan zaman hari ini yang semakin mencekam, yang semakin competitive, semakin keras saingannya, orang berpikirnya bagaimana ia bisa sukses, bagaimana bisa hidup enak, banyak duit, yang terkadang tidak pada track yang seharusnya ia tempuh, maka tidak heran kalau ada pejabat yang korup, pengusaha yang licik dan bahkan pemimpin yang menindas rakyatnya.
Contoh lainnya untuk sekolah hingga kuliah, biaya yang harus disiapkan semakin mahal saja. Sementara ketika sudah selesai kuliah ternyata masih banyak bahkan semakin bertambah banyak jumlahnya yang menganggur karena kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan, persaingan yang semakin mengglobal bahkan yang lebih mengerikan tidak tidak sedikit dihapapkan dengan praktik suap. Tentu ingin menjadi masalah tersendiri, sampai kembali kita menyimpulkan bahwa hidup itu memang sulit.
Contoh berikutnya ketika seseorang sudah menginjak dewasa kemudian ia memutuskan untuk berumah tangga, ternyata untuk menuju kesana prosesnya juga tidak semudah membalikan telapak tangan. Terlebih ketika harus memiliki rumah, harganya kan tidak kecil, apalagi kalau sudah memiliki keturunan dan seterusnya. Bahkan untuk berbisnis/berwirausaha saja supaya tidak bergantung kepada lapangan pekerjaan yang amat sempit, juga ternyata tidak mudah, harus ada modal dulu, bahkan untuk mengurusi perizinannyapun tidak mudah. Sampai kembali pada kesimpulan sementara kita bahwa memang hidup itu tidak mudah kawan.
Dan ketahuilah kawan, sesungguhnya ada hal yang jauh lebih sulit dari semua yag sudah saya paparkan diatas, tahukan anda? Takukah anda hal apa yang paling sulit dari semua kesulitan yang sudah saya uraikan diatas? Yakni menjadi manusia yang senantiasa dicintai oleh Allah swt. Proses untuk kesana tidaklah mudah kawan, karena kita bertemu dengan medan perjuangan yang amat mengerikan, karena ada nafsu dalam diri kita yang kemudian dimantapkan dengan bujuk rayu syetan hingga kita semakin sulit melangkah menuju cintaNya Allah swt.
Hingga Rosulullah SAW pernah menyampaikan bahwa jihad yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu, dan sungguh mereka yang mengikuti jejak nafsu yang tidak pada track yang seharusnya adalah mereka yang amat merugi. Kembali saya ingatkan kawan, bahwa hidup ini sulit, pahit dan tidak mudah untuk dijalani.
Pertanyaannya, bagaimana caranya agar hal itu tidak terjadi dan kita bisa melewati setiap kesulitan yang ada dihadapan kita? Saya ingin berbagi sedikit dan sangat mungkin tidak bisa memuaskan rasa penasarana sahabat semua, namun mudah-mudah kita bisa terus berbagi, untuk saling memudahkan setiap kesulitan itu. Kunci keluar dari kesulitan itu diantaranya;
1.        Milikilah ilmunya
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa ilmu itu cahaya, maka apabila kita analogikan kehidupan yang sulit itu bagaimana kegelapan, itu berarti ita sedang membutuhka cahaya. Dan cahaya itu adalah ilmu. Sebagaimana salah satu perkataan rosulullah SAW, bahwa “apaila engkau ingin bahagia didunia, kuncinya dengan ilmu, ketika engkau ingin bahagia diakhirat juga dengan ilmu hingga ketika engkau ingin bahwa dunia akhirat, maka kuncinya harus dengan ilmu”. Jelaslah kawan, semua yang menjadikan hadirnya kesulitan dalam hidup kita, itu hanya karena satu alasan, yakni kita belum tahu ilmunya untuk mengatasi kesulitan dan kepahitan tersebut.
Sederhananya bagaikan ketika kita diberikan soal ulangan oleh guru, tentu kita tidak akan bisa mengisi soal-soal tersebut manakala kita tidak tahu rumus dan cara menyelesaikannya, berbeda dengan ketika soal yang kita terima itu bisa kita kerjakan karena kita tahu ilmunya. Untuk itu mari kita menjadi pribadi yang senantiasa senang dan bersemangat untuk mencari ilmu, hingga setiap takdir yang akan menyulitkan kita, sudah kita antisipasi penawarnya yakni ilmunya.
2.        Mulai dari paradigma kita
Kunci berikutnya untuk keluar dari setiap kesulitan hidup, yakni kita harus senantiasa memastika agar paradigma dan mental kita senantiasa terjaga dalam suasana dan kondisi yang penuh optimistis. Tak ada ruang pesimistis sekecil apapun. Mental dan konsep diri kita harus di instal dengan mental optimis, selalu yakin dan yakin bahwa semua kesulitas itu pasti ada jalan keluarnya. Sebagaimana yang Allah firmankan di dalam Alqur’an surat al-Insyirah ayat 5-6, yakni “ maka setelah kesulitan itu ada kemudahan dan setelah kesulitan itu ada kemudahan” hingga Allah mengulanginya sebanyak dua kali. Maka yakinlah sesungguhnya  ketika kita hanya bergantung dari semua urusan kepada Allah  saja, maka kemudahan itu ada ditangan kita, insya Allah.
3.        Mantapkan dengan iktiar yang sungguh-sungguh lalu
Tahu ilmu, mental yang baik saja belum cukup, kita butuh ikhtiar duniawi, ikhtiar lahiriah, maka pastikan untuk mengatasi semua kesulitan itu diperlukan kerja-kerja lahiriah yang sungguh-sungguh, contohnya ketika kita ingin mendapatkan penghasilan yang berkecukupan, maka tentu ktia harus pandai menata diri untuk pantas mendapatkannya, kalau kita menjadi pengusaha maka ikhtiarnya harus terus diupgrade agar omset dan hasil usaha kita juga makin bertambah. Prinsinya adalah continuous improvement yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu.
Sederhanya jangan malas, bekerjalah dengan ikhtiar yang maksimal dan sungguh-sungguhnya, biar semua hasilnya kita serahkan dan kembalikan kepada dzat yang Maha Menentukan takdir makhlukNya.

4.        Sempurnakan dengan do’a
Kunci berikutnya, maka sempurnakanlah dengan ikhtiar batiniah kita, dengan ikhtiar langit yang tidak boleh terputus, maka gunakan senjati terampuh kita sebagai orang yang beriman, yakni DO’A, inilah seseungguhnya senjata terampuh untuk kita gunakan ketika kita bertemu dengan kesulitan dan setiap langkah kaki kita.
Ingatlah kawan, sesungguhnya kita saat ini sedang menempuh sebuah perjalanan, sebuah perjalanan yang hanya sebentar saja, dan kita akan bertemu dengan sebuah kehidupan yang amat fana, kelak diakirat, dan itulah kehidupan yang sesungguhnya harus kita kejar, dan kereta waktu itu kian hari terus berlari, maka tak ada kata berhenti untuk terus meraih mimpi yang hakiki itu dan langkah ini tak akan berhenti hingga kita semakin mendekat padaNya yakni melalui sebuah takdir kepastian kita, yakni KEMATIAN. Wallahu’alam bishowab.
Bandung, di Pondok Daarul Qur’an, Senin, 27 Mei 2013 jam 17.35-18.38 WIB. Dekap hangat salam cinta dari sahabat Anda Ence Surahman. 

You Might Also Like

2 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Hatur nuhun ilmuna, http://andrioptimasi.blogspot.com/

    BalasHapus

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.