Menakar Kepantasan Diri

22.02.00


Oleh : Ence Surahman, S.Pd


Kurang lebih 3 bulan yang lalu saya ditawari oleh salah satu pathner baik saya yang juga atasan saya di sekolah untuk ta’aruf dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter kenalan dari istri atasan saya tadi. Katanya sang dokter muda ini sedang mencari pasangan hidup dalam waktu segera, selintas sempat berpikir dalam hati “apakah ini jawaban dari Allah atas mimpi saya tempo dulu?” sejujurnya saya sempat punya keinginan untuk menikah dengan seorang dokter, tapi ketika akhirnya ada kesempatan saya segera tersadar dan merefleksi diri bahwa ternyata untuk saat ini saya belum pantas bersanding dengan seorang dokter dilihat dari berbagai aspek yang saya pahami saat ini. Akhirnya saya katakan “terimakasih atas kebaikannya, namun mohon maaf karena berbagai pertimbangan untuk saat ini saya belum siap melangkah kesana, semoga beliau –dokter- segera mendapatkan pendamping hidup yang diimpikannya”.
Tidak sampai disitu Kamis pekan lalu saya ditelfon juga oleh senior saya beliau menanyakan kesiapan saya untuk menuju ke jenjang pernikahan, beliau bilang ada seorang wanita yang sedang berencana menikah dalam waktu dekat dan pihak keluarganya sudah menyiapkan semuanya jadi kalau diproses sepertinya prosesnya tidak akan lama lagi, boleh jadi dalam waktu satu bulan ini bisa langsung menikah, sejenak sayapun sempat berpikir “apa ini jawaban Allah atas do’a minta dipermudah proses kesana?” tapi akhirnya saya putuskan untuk belum atau tidak menerima tawaran tadi dan saya malah merekomendasikan salah satu teman terbaik saya untuk diproses kesana.
Bahkan kemarin sore sekitar pukul 14an, saya ditelfon oleh direktur sebelumnya di tempat saya mengajar, beliau baru buka pesantren dan sekolah di Garut tepatnya di Kadungora, dan beliau menawarkan saya untuk menjadi kepala sekolah disana, sejenak saya berpikir “subhanallah, apa ini jawaban atas do’a-do’a saya akhir-akhir ini?” namun tak lama setelah itu saya sampaikan permohonan maaf bahwa saya sendiri masih merasa belum pantas untuk menjalankan amanah tersebut, merasa masih minim ilmu dan pengalamannya, akhirnya saya rekomendasikan senior saya yang kebetulan sudah selesai di pasca sarjana.
Subhanallah dari ketiga kisah yang Allah hadirkan dalam hidup saya tadi, saya sendiri punya sedikit kesimpulan bahwa ternyata do’a kita itu pasti Allah kabulkan entah dalam waktu dekat atau jauh bahkan entah didunia atau nanti diakhirat. Hanya yang menjadi masalahnya adalah ketika Allah hendak menjawab rintihan do’a kita, bagaimana kondisi kita pada saat itu, apakah kita sudah siap ataukah belum?
Ini yang saya maksud tentang konsep diri yakni senantiasa mengupgrade diri untuk selalu bisa menakar kepantasan dalam diri kita. Sederhananya kalau misalnya saya yakin sudah pantas, tentu tawaran-tawaran diatas tidak saya abaikan begitu saja, tapi karena diri ini merasa belum siap ilmunya, belum siap pengalamannya akhirnya tidak saya terima.
Hikmahnya teruslah belajar, karena dengan belajar kita akan semakin banyak ilmu dan pengalaman dan sering-seringlah menakar kepantasan diri sendiri yang dengan begitu kita akan senantiasa tahu dimana posisi kepantasan diri kita setiap waktu. Wallahu’alam, semoga ada manfaatnya.  


You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.