Mari Kita “Sentuh” Sama-Sama.

02.58.00


Oleh : Ence Surahman, S.Pd

Sumber gambar : http://skemaelectronics.blogspot.com/2013/03/skema-sakelar-bsentuh.html


Yogyakarta, 20/09/2014. Satu tahun yang lalu, tepatnya pada waktu saya mendaftarkan diri untuk studi lanjut di Prodi Pengembangan Kurikulum Program Pascasarajana  (PPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), saya sudah menyiapkan masalah untuk diteliti selama studi, khususnya dalam rencana penelitian thesis saya. Masalah yang ingin saya teliti itu tentang sesuatu yang sederhana namun sayang untuk tidak mendapatkan sentuhan, yakni tentang “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Informal” yang menurut saya pribadi belum banyak mendapatkan perhatian, baik  itu dari kalangan peneliti/ilmuwan maupun pemerintah. Tentu kurikulum yang saya maksud bukan semata yang hanya tersirat namun kurikulum yang tersurat dalam bentuk panduan pendidikan informal.
Dalam pandangan saya, sejauh ini fokus perhatian proses pendidikan cenderung tidak berimbang, dimana jalur pendidikan formal mendapatkan perhatian yang sangat baik, sementara program pendidikan informal masih belum atau bahkan dibiarkan berjalan secara alamiah tanpa ada perhatian yang serius. Padahal kalau kita mau membandingkan justru seorang anak termasuk orang dewasa, lebih banyak menghabiskan waktu dilingkungan pendidikan informal yakni pendidikan dalam keluarga dibanding pendidikan non formal apalagi pendidikan formal.
Dalam undang-undang no 20 tahun 2003 butir 13 pasal 1 menyebutkan bahwa “pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan”. Artinya pendidikan informal merupakan salah satu jalur pendidikan yang diakui oleh undang-undang. Hal ini berarti bahwa pendidikan informal harus mendapatkan perhatian yang sama dan berimbang sesuai keharusannya dengan pendidikan formal juga non formal. Jangan sampai ia berjalan secara alamiah secara terus menerus. Karena kualitas pendidikan informal akan menentukan kualitas input siswa kepada jalur pendidikan formal dan lebih jauhnya menjadi penentu kualitas sumber daya manusia disebuah bangsa dan peradaban.
Jadi intinya seandainya dulu saya lanjut mengambil kuliah pengembangan kurikulum di UPI saya akan melakukan riset tentang model, strategi, metode yang terpadukan dalam bentuk kurikulum pendidikan informal. Walaupun barangkali anda akan bertanya “apakah pendidikan dalam keluarga harus ada panduan tertulis sebagaimana pendidikan formal?” justru itulah salah satu rumusan masalah yang akan saya teliti, dan itu akan menjadi bagian dari pertanyaan pra penelitian untuk mengetahui kebutuhan masyarakat akan panduan kurikulum pendidikan informal yang tersurat.
Adapun rumusan masalah berikutnya adalah bagaimana model pengembangan kurikulumnya?, kemudian proses pendidikannya?, kemudian sarana dan alat bantu serta sumber belajarnya? Termasuk bagaimana indikator pendidiknya dalam hal ini orang tua dan orang dewasanya? Bagaimana kurikulum menyikapi perbedaan budaya, agama dan kultur sosial masyarakat? Apa saja target dan tujuan dari proses pendidikan informal? Tentu itu semua akan menjadi kajian yang sangat menarik untuk di kaji, diteliti hingga kemudian hasilnya diseminasikan baik dalam bentuk seminar keluarga, dicetak dalam bentuk buku panduan dan disebarluaskan kepada orang tua, sehingga harapannya orang tua sebagai pendidik dalam jalur pendidikan informal memiliki rambu-rambu yang jelas, memiliki panduan yang mantap, termasuk memahami cara pendidikan yang baik dan tepat untuk anak-anak yang dicintainya, guna menyelarasakan antara tujuan pendidikan informal dengan tujusan pendidikan formal yang mengerucut pada pencapaian cita-cita bangsa yang tecantum dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional  pada pasal 3 UU no 20 tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Namun demikian, walaupun akhirnya saya mengambil kuliah Teknologi Pembelajaran/Pendidikan UNY dan  tidak jadi di Pengembangan Kurikulum UPI, dalam hati saya masih tertanam kuat niat untuk merealisasikan impian saya tersebut, dan seandainya ada diantara para pembaca tulisan ini yang sama-sama tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengembangan Kurikulum Pendidikan Informal, mari kita berkolabirasi untuk membantu mereka (orang tua) yang belum tahu arah dan masih meraba-raba sehingga merasakan kesulitan dalam mendidik putra-putrinya. Wallahu’alam, mudah-mudahan bermanfaat.

Nb : ini ada rahasia dikit, jangan bilang-bilang sama tetangga ya! Hehe. Jika nanti buku panduannya sudah jadi, ketika nanti saya menikah membangun keluarga dengan istri tercinta, terutama ketika sudah dikarunai anak, maka saya berencana dan akan berkolaborasi dengan istri saya untuk mempraktikan sekaligus menguji hasil temuan  tentang kurikulum pendidikan informal. Cie cie ngelamun hehe :D

You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.