Membangun Budaya Kolaborasi Dalam Pendidikan

04.14.00

Oleh : Ence Surahman, S.Pd

Sumber Gambar : http://www.alleywatch.com/2013/06/10-tools-that-simplify-startup-collaboration/ 



Catatan di personal data saya menunjukan bahwa terakhir saya menulis artikel pada bulan Februari, itu berarti sudah 7 bulan saya tidak menulis, dan saya pikir ini bukan perkara yang bagus untuk seorang pembelajar seperti saya, karena sempat dibulan ramadhan tahun yang lalu saya bisa konsisten membuat program one day one article during ramadhan. Alhamdulilah saat ini kembali semangat untuk mencurahkan keresahan pikiran saya berkaitan dengan hal-ihwal yang saya pandang sebagai sebuah masalah dan tentu beserta solusinya yang sempat terbersit dipikiran. So, apakah gerangan yang akan saya share saat ini?
Dalam pandangan saya, salah satu masalah pendidikan saat ini yang sangat krusial adalah dikotomi dan parsialisasi elemen-elemen system pendidikan. Pandangan saya ini muncul disela-sela diskusi perkuliahan landasan teknologi pendidikan tadi siang bersama Prof. Dr. Abdul Gofur, M.Sc. dalam pengantar perkuliahan tentang kawasan teknologi pendidikan, beliau bertanya kepada kami para mahasiswanya. Masing-masing dari kami menyampaikan pendapatnya tentang permasalahan dalam dunia pendidikan khususnya dalam konteks pembelajaran.
Mungkin anda akan bertanya? Apa dasar saya mengatakan bahwa masalah krusial sistem pendidikan kita adalah dikotomi dan parsialisasi elemen-elemen sistem pendidikan. Saya ambil contoh sederhana, misalnya antara pendidikan formal, nonformal dan informal, sejauh penglihatan saya seolah berjalan masing-masing tanpa ada sinergis diantara ketiganya. Mungkin ada yang bertanya? Memangnya hal tersebut merupakan sebuah masalah? Tentu jawabannya tergantung cara pandang masing-masing kita. Hanya bagi saya hal tersebut saya pandang sebagai masalah? Mengapa?
Alasan pertama adalah masyarakat kita belum terbiasa dengan praktik learning society, atau sederhananya adalah masyarakat belajar. Barangkali hal ini sangat banyak alasannya misalnya karena latar belakang pendidikan yang rendah sehingga mindset mereka belum tertanam bahwa pendidikan, informasi aktual dan perkembangan IPTEK dan temuan itu adalah hal yang penting untuk diketahui. Dimana boleh jadi hal tersebut dikarenakan juga oleh faktor kesibukan memenuhi target tuntutan ekonomi keluarga, misalnya karena jam kerja yang padat, atau karena tidak waktu khusus untuk belajar, hal lainnya karena mungkin merasa cukup dengan kemampuan yang sudah dimiliki, sehinga tidak ada ikhtiar untuk improvment capability dirinya. Ini yang saya maksud dengan belum terbangunnya learning society culture.
Alasan kedua adalah irama pendidikan kita belum terbangun dalam satu irama yang sama. Misalnya seorang siswa berangkat pagi pulang siang atau sore kesekolah berikutnya ada yang bantu pekerjaan orang tua, mengerjakan tugas, dan sebagiannya lagi bermain hal-hal yang kurang menunjang kapasitas dirinya sebagai pelajar. Dalam konteks ini kita melihat ada masalah serius dimana orang tua dan masyarakat sebagai ranah pendidikan non formal yang saya maksud dalam rangka mendidik siswa tadi atau bahasa filsafat pendidikannya anak didik untuk terus belajar walaupun bukan lagi disekolah. Contoh sederhana jika tantangan pendidikan masyarakat ini sudah terbangun dengan baik, maka tidak akan terjadi yang namanya tawuran antar pelajar, kemudian siswa nongkrong di tempat hiburan seperti game online, bioskop, mall diluar waktu yang boleh ditoleransi, siswa meroko, mabuk dan menjalin hubungan dengan lawan jenis yang bukan mukhrim dan belum waktunya. Karena ketika masyarakat melihat pelanggaran-pelanggaran itu mereka tidak akan dibiarkan. Masyarakat yang paham akan sangat peduli terhadap masalah-masalah tersebut, siapapun anak didiknya, orang dewasa yang mengerti filosofi pendidikan orang dewasa kepada anak didik pasti akan melakukannya. Apapun yang mereka bisa lakukan guna menyelamatkan diri dan kepribadian serta masa depan anak didik tersebut.
Hal lain dalam kaitannya dengan pendidikan informal di dalam keluarga itu sendiri, orang tua semestinya memamtau, mengawasi, memonitor anak-anaknya, dengan siapa bermain, apa yang biasa dilakukan dengan teman-temannya, untuk apa uangnya digunakan, kalau dirumah ada akses internet untuk apa mereka gunakan itu? Orang tua yang memahami pentinganya kolaborasi dalam sistem pendidikan, maka ketika anaknya sepulang dari sekolah, ia akan membuat rule yang disepakati dengan anaknya tentang perkara-perkara yang penting untuk masa depan anaknya, sehingga tidak boleh terjadi lagi orang tua acuh dengan perkembangan kepribadian anaknya, orang tua tidak tahu kemana anaknya malam minggu, main dengan siapa, main dimana dan lain sebagainya.
Berikutnya saya ingin mengaris bawahi titik kritis saya tentang pentingnya membangun budaya collaborative education culture. Budaya yang saya maksud disini tidak hanya seperti yang saya paparkan di beberapa alenia diatas, melainkan saya memimpikan colaborative yang dimaksud terbangun dalam satu sistem yang padu, rapi, terstruktur, mudah dilakukan dan akhirnya membuahkan hasil berupa output sistem pendidikan yang bermutu.
Saya menyarankan dalam struktur kurikulum sekolah formal, karena sejauh ini hanya sekolah formal yang memiliki struktur kurikulum yang tertulis, rapi, sistematis, sementara untuk jalur pendidikan nonformal dan informal sifat hanya tersirat tidak tersurat. Dalam struktur kurikulum sekolah tercantum pelibatan elemen orang-orang dirumah siswa dan masyarakat sekitar. Maka seorang guru dan satuan pendidikan harus bisa mengemas proses pembelajaran sepanjang waktu, any where, any things and any time. Artinya sepulang dari sekolah, anak tidak lantas meninggalkan target kompetensi belajarnya, malainkan hanya berpindah tempat dan lingkungan yang awalnya disekolah menjadi dirumah dan dilingkungan masyarakat, maka siapa yang menjadi pengganti gurunya mereka adalah orang tau, masyarakat dan sumber belajar lain  yang bisa digunakan, baik dari perpustakaan masyarakat (yang juga belum terbudaya), tempat peribadatan, maupun alam sekitar berupa kebun warga, lapangan olah raga, taman, area bermain dan lain-lain. Artinya semua elemen, semua tempat, setiap waktu, mendukung dan memungkinkan siswa atau anak didik untuk terus mengupagrade wawasannya. Dan bukan hanya siswa, melainkan masyarakat juga akan dengan sendirinya terbantu secara tidak langsung dan terbangun dalam budaya dan lingkungan learning society.  
Biar gagasan itu bisa lebih membumi, saya berikan contoh sederhana, misalnya dalam mata pelajaran biology, seorang guru tidak boleh hanya menjadikan sekolah dan laboratorium biologi sekolah (dengan segala keterbatasannya) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang harus di capai oleh siswa. Melainkan bisa berkolaborasi dengan orang tua, dan masyarakat. Konkritnya bertanya kepada orang tua siswa atau tokoh masyarakat yang mengetahui kebun warga yang memiliki tumbuhan atau hewan ternak yang terkait dengan kompetensi dalam mata pelajaran biologi tadi, lalu guru dan siswa atau boleh hanya siswa yang diberikan  panduan oleh guru untuk melakukan kegiatan observasi lapangan lalu membuat laporan dan mempersentasikan di kelasnya. Saya pikir hal ini selain akan berdampak pada terbangunnya learning society juga bisa menjadi sarana latihan siswa untuk gemar melakukan kegiatan penelitian dan hal ini sampai saat ini masih minim dilakukan disekolah-sekolah.
Kegiatan semacam itu bukan hanya bermanfaat untuk siswa da guru tapi juga untuk para petani, para peternak, karena setidaknya bisa terjadi proses sharing, misalnya ada siswa yang pernah observasi di pertanian milik petani dan peternak yang lain yang lebih bagus, maka ia bisa sharing kepada petani dan peternak yang baru ia temui, jika melihat proses pertaniannya belum maju. Manfaat lainnya adalah untuk menjauhkan gengsi siswa dengan dunia pertanian dan peternakan, karena ini juga bisa menjadi masalah serius, buktinya hasil survey pemerintah bahwa ternyata yang paling kritis di negara kita saat ini bukan hanya persoalan ekonomi dan energi melainkan pangan. Kita bisa temui di tempat belanja buah-buah dan sayuran impor, ini membuktikan bahwa pertanian dinegara kita mengalami penurunan, seiring berjalannya roda perindustrian. Nah dengan pembelajaran kolaboratif diharapkan siswa yang tidak berkesempatan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi bisa lebih aware akan pertanian dan pangan.  
Mengakhiri tulisan saya kali ini, saya berikan sebuah contoh sederhana tentang pentingnya budaya kolaborasi dalam semua hal termasuk dunia pendidikan. Misalnya dalam permainan sepak bola, sebuah klub yang memiliki pemain bintang tidak selamanya otomatis keluar jadi juara dalam ajang kompetisi, hal itu dikarenakan para pemainnya tidak bisa membangun sistem penyerangan, sistem pertahanan dan organisasi irama permainan yang baik, sementara disisi lain, klub yang hanya dihuni oleh pemain yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol mampu menampilkan dirinya sebagai juara karena mereka mampu membangun irama kolaborasi yang baik dan efektif, pun dalam membangun sistem pendidikan kita, irama parsialisasi, irama dikotomi, irama beda kamar saya kira sudah bukan jamannya untuk terus dipertahakan, mengingat era informasi ini mengharuskan kita selalu berkolaborasi, bahasa agamanya adalah berjama’ah.
Barangkali itu yang bisa saya share saat ini semoga bermanfaat, yang mau diskus boleh via email ncislam4ever@gmail.com atau via twitter @encesurahman. Go collaboration :D (EnSu_Selasa_16-9-14)


You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.