The Power Of Love and Graceful

01.27.00


Oleh : Ence Surahman, S.Pd

Yogyakarta, 19/9/2014. Tepat pada tanggal 2 Juli 2014 lalu almarhumah nenek saya (dari garis keturunan ibu) meninggal dunia, tepatnya hari Senin, dini hari sekitar pukul 01.05 WIB. Kejadian ini tentu masih begitu membekas dalam ingatan saya, dan setiap saya ingat kejadian itu saya selalu ingat pribadi almarhumah selama ia masih hidup. Beberapa bulan sebelum almarhumah akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, beliau sempat kena penyakit gula darah tinggi yang membuat hanya bisa tertidur dikasur untuk beberapa bulan, walaupun alhamdulillah akhirnya beliau kembali normal bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala.
Almarhumah meninggalkan suami dan keturunan serta saudaranya di usia 68 tahun. Alhamdulillah detik-detik menjelang kepergiannya tidak sempat merepotkan kami keluarganya. Krinologis kejadiannya bermula selepas melaksanakan shalat isya hari Jum’at malam Sabtu, 30 Juni 2014, biasanya beliau kada menyempatkan untuk menonton televisi terlebih dahulu, namun pada malam itu konon beliau memilih untuk langsung istirahat dikamarnya. Ketika subuh suaminya (kakek saya) bangun rupanya almarhumah tidak bangun, padahal biasanya beliau selalu bangun lebih awal dari kakek saya untuk sekedar menyalakan perapian, memasak air, dan bisanya menyiapkan hidangan sarapan pagi kesukaan suaminya.
Namun pagi ini (Sabtu) berbeda. Almarhumah tidak kunjung bangun dan akhirnya sang kakek meminta cucunya (kakak saya) untuk membangunkannya karena kebetulan pagi itu kakek harus berangkat kerja lebih awal. Dan ternyata ketika dibangunkan almarhumah kondisinya dalam keadaan pingsan. Akhirnya kami menghubungi tenaga kesehatan dan ketika diperiksa ternyata kondisinya sudah sangat melemah dan sudah tidak ada respon sedikitpun ketika coba diberikan rangsangan, akhirnya saudara almarhumah dan kami keluarganya berkumpul untuk sekedar menggelar acara baca qur’an dan berdo’a bersama. Hingga akhirnya di hari Senin dini hari, almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya menuju tempat terbaik disisiNya, aamiin YRA.
Keesokan harinya para tetangga dari beberapa kampung hadir takziyah, bahkan jumlah yang hadir sangat banyak, terhitung yang ikut bantu menggali kuburannya saja lebih dari 68 orang (saya sendiri baru melihat antusiasme warga yang sangat luar biasa), husnudzan baik saya barangkali kali kebaikan dari almarhumah selama hidupnya dan pengaruh kakek saya yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk membantu masyarakat sekitar sebagai pengurus jenazah ketika ada yang meninggal dunia, bahkan dalam catatan mini biografi kakek saya yang pernah saya susun di tahun 2013, selama hidupnya kakek saya tercatat telah mengurusi jenazah sampai angka 68 orang itu yang beliau masih ingat (seolah ada korelasi yang sangat kuat).
Selain bapak-bapak dan para pemuda yang membantu dipemakaman, ibu-ibu dan para pemudi yang hadir membantu dirumah duka baik yang membantu memandikan, mengkafani, menshalatkan dan mengantarkan almarhumah sampai ke kuburan jumlah totalnya lebih dari 200 orang. Ini angka yang sangat fantastis untuk ukuran kampung kecil seperti yang ditinggali oleh keluarga kami disana, yang mana rumah kakek sayapun sebenarnya terbilang jauh dari pemukiman yang lain (terpencil) tapi hal itu tidak mengurangi kebaikan warga untuk hadir membantu, bahkan beberapa guru yang ada dikampung turut hadir dalam prosesi pengurusan jenazah almarhumah yang amat saya cintai itu.
Mohon maaf saya tidak berniat sombong dengan menceritakan beberapa kelumit kebaikan almarhumah khususnya, namun saya pribadi berpikir bahwa ada hikmah penting yang ingin saya bagikan kepada para pembaca sekalian, sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya tulis dan sebarkan melalui blog pribadi saya, namun apalah daya baru kali ini bisa merampungkannya.
Lalu, apakah gerangan kebaikan yang paling kentara dari almarhumah selama hidupnya? Bagi saya untuk kebaikan-kebaikan lain, seperti rajin menolong, berbuat baik kepada tamu, tentangga, rajin ikut pengajian, taat shalat lima waktu, rajin sedekah, mengurus anak dan cucu, serta kewajiban umum almarhumah sebagai hamba Allah dan sebagai istri adalah sesuatu yang umum dan saya juga sering melihat hal itu dari orang lain. Namun sejujurnya ada satu yang begitu saya garis bawahi, selama usia saya 25 tahun dan selama itu saya sering bertemu, berinteraksi, ngobrol, dengan almarhumah ada satu hal yang membuat saya tidak bisa menahan tangis saya ketika mewakili sambutan atas nama keluarga setelah selesai prosesi pemakanan almarhum yakni “saya tidak pernah melihat, ataupun mendengar almarhumah melawan, berpaling muka atau hanya sekedar menyanggah ucapan dan perintah suami, dan saya belum pernah mendengar beliau menaikan nada bicaranya diatas nada suaminya, serta saya tidak pernah melihat beliau bertindak kasar baik dengan lisan ataupun perbuatannya kepada semua orang termasuk kami cucu-cucunya yang bandel sekalipun”.
Dan ternyata hal itu dibenarkan oleh ibu dan paman serta bibi saya, mereka lebih lama mengenal almarhumah, pun sama kakek saya yang juga sehari-hari dekat dengan almarhumah termasuk saudara-saudara (adik-adik almarhumah karena almarhumah anak paling besar) mereka semua membenarkan ucapan saya dalam sambutan, bahwa memang beliau senantiasa menjada dirinya dari sifat pemarah, dan yang lebih penting adalah beliau selalu setia dan taat kepada suaminya.
Para pembaca yang baik hati, saya termasuk orang yang iri dengan prosesi menjelang datangnya ajal kepada almarhumah, karena beliau alhamdulillah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya beliau tidak dalam kondisi berhutang atas kewajiban utamanya yakni shalat lima waktu, jujur hal itu yang membuat saya sangat iri, karena saya khawatir ketika ajal menjemput saya sedang dalam kondisi berhutang kepada Allah yakni hutang shalat lima waktu. Selain itu saya sering melihat ada orang meninggal dalam kondisi yang membuat dirinya meninggalkan shalat padahal shalat itu hukumnya wajib dalam keadaan sadar sekalipun sedang sakit, tapi kebanyakan orang terkadang menyepelekan hal tersebut. Bahkan kalau kita lihat fenomena sosial, tidak sedikit orang-orang yang secara hukum wajib shalat tapi mereka dengan sengaja meninggalkannya.
Wallahu’alam, mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil, khususnya untuk para muslimah, baik yang sudah menikah ataupun belum, agar senantiasa terus menguatkan pemahamannya tentang tugas pokok seorang istri kepada suaminya yakni senantiasa setia dan taat, tidak membantah, tidak menyela pembicaaran dan tidak meninggikan suara ketika suami sedang berbicara. Junjung tinggi lemah lembut, buah jauh sifat pemarah, semoga kebaikan itu yang akan menghadirkan keutamaan dimata Allah swt, aamiin YRA. (Mohon jika tidak keberatan untuk berkenan mendo’akan almarhumah yang saya ceritakan diatas, “allahumaghfirlaha warhamha, wa’afihi wa’fuanha, aamiin YRA” terimakasih banyak atas kesediannya semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda aamiin YRA :-) .




You Might Also Like

2 komentar

  1. SubhanAllah, nangis bacanya, sambil muhasabah diri terhadap yg lalu, bersiap diri thd masa yg akan datang. Seakan belum siap.

    BalasHapus
  2. sebentar lagi ilmunya akan segera dipraktekan, selamat berkhidmat

    BalasHapus

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.