Cinta Itu Bukan Harta, Rupa apalagi Harta, melainkan .......

06.20.00


Oleh : Ence Surahman, S.Pd


Pembaca yang budiman, semoga yang menjalankan ibadah puasa diberikan kelancaran dan kesehatan sehingga bisa memaksimalkan setiap peluang ibadah dibulan yang mulia ini. Kali ini saya mau berbagi tentang sesuatu yang istimewa dan kadang jadi bahasan cukup menarik dibeberapa kalangan, ialah cinta. Saya bukan pakar cinta dan buka sastrawan peminat topik cinta, saya hanya perenung yang terus berupaya mencari hikmah yang berserakan disetiap cerita dan suasana.
Dalam pandangan saya, cinta itu bukan tentang rupa, harta maupun tahta. Saya kira para pembaca juga demikian. Cinta itu kenyamanan hati. Bagaimana saya bisa menyimpulkan demikian? Coba kita lihat fakta disekitar kita, jika cinta itu rupa, lalu mengapa banyak orang yang mau menikah dengan pasangan yang menurut kasat mata tidak berimbang, ada yang istrinya cantik jelita, suaminya biasa saja bahkan sudah usia senja, ada yang suaminya masih muda gagah perkasa, menikah dengan istrinya yang berparas sederhana dan tidak lagi muda. Jika cinta itu rupa, mengapa ada yang bersedia menikah dengan pasangannya yang tuna rungu, tuna wicara bahkan tuna daksa?
Lalu jika cinta itu harta, mengapa ada anak pejabat yang kaya raya memilih pasangan kalangan bawah? Mengapa seorang pangeran memilih pasangan dari keluarga sederhana? Mengapa suami istri bertahan tinggal digubuk reyot bahkan tempat tinggal beratapkan langit dan bintang? Dan apabila cinta itu tahta mengapa banyak orang yang akhirnya berpisah ketika pasangannya sudah naik jabatan, terpilih sebagai anggota dewan, pimpinan perusahaan dan semacamnya?
Di sisi yang lain, mengapa ada pasangan yang terlihat begitu bahagia, hidup harmonis, romatis, sekalipun dalam kondisi serba kekurangan? Tapi mereka pantang mengeluh, pantang menjadi beban bagi orang lain? Mereka dengan tegar menunjukan kepada dunia bahwa “kamilah yang paling bahagia, apapun keadaannya”? kuncinya satu, cinta itu adalah kenyamanan hati bukan rupa, harta maupun tahta.
Cinta dalam dimensi yang lain juga demikian, seperti cinta pada pekerjaan, tempat belajar, kampus, kota tempat tinggal baru, relasi bisnis, dan lain sebagainya? Sebagai contoh saya termasuk orang yang mudah jatuh cinta ketika menjadi pendatang di Yogyakarta kota istimewa. Tidak butuh waktu lebih dari 10 hari bagi saya untuk jatuh cinta dengan kota ini. Tahukah alasannya kenapa? Karena saya merasa nyaman, aman dan betah tinggal dijogja. Mungkin berbeda ceritanya jika saya tinggal disebuah kota yang rawan pencurian, penjambretan, begal, teroris, pembunuhan, dan lain sebagainya.
Kembali kepembahasan diatas, mari kita renungkan sejenak, apa yang membuat Siti Hajar ikhlas ditinggal jauh oleh Nabi Ibrahim a.s pada saat ia mengandung dipadang pasir yang tandus, gersang dan tanpa ada perkampungan yang bisa dijadikan tempat meminta tolong? Dan baru kemudian ditemuinya lagi setelah sekian tahun, namun kualitas cinta mereka tetap terjaga tidak kurang satu apapun? Jawabannya karena hati-hati mereka ada yang memastikan merasa nyaman satu sama lain. Inilah kunci penting yang hendak saya sampaikan lewat tulisan ini. Bahwa dalam membangun relasi, agar suasanya kenyamanan dan harmoni itu senantiasa terjaga, maka satu hal yang jangan dilupakan, yakni kedekatan dengan Sang Pemilik dan Pembolak Balik hati. Kita pasrahkan padaNya agar hati orang-orang yang kita cintai senantiasa merasa nyaman dengan kita apapun kondisinya. Kita minta padaNya  agar kita sendiri dikuatkan untuk senantiasa menjaga kualitas cinta kita pada orang-orang tercinta, baik kepada istri, suami, orang tua, anak-anak, tentu dengan ikhtiar lahiriyah yang akan menuju ke arah sana. Kuncinya adalah kualitas kedekatan kita dengan sang pemilik dan pembolak balik hati, karena ketika hubungan kita denganNya baik, maka idealnya hubungan kita dengan sesama manusia juga baik, namun jika hubungan kita dengannya tidak baik, maka sangat mungkin hubungan kita dengan manusia juga demikian. Wallahu’alam bishowab..

You Might Also Like

3 komentar

  1. Namun ada sebagian pendapat jika mencari pendamping itu harus sekufu, baik dari segi harta, tahta, keturunan, rupa, dan agama. Karena supaya satu sama lain bisa saling menyeimbangkan, nggak ada yang merasa minder dan tinggi hati. Ada benarnya jika dilihat dari sudut pandang tertentu. Tapi yang jelas, ikhlaskan saja jika ditolak karena kurang cantik/tampan, ikhlaskan saja jika ditinggal karena kurang kaya, ikhlaskan saja jika ditinggal karena bukan dari keluarga bangsawan, tapi harus introspeksi jika ditinggal karena agama. Berarti betapa kurangnya agama yang kita miliki sehingga orang saleh/salihah sampai meninggalkan kita. betul nggak kang ence?? Heheh

    BalasHapus
  2. Subhanallah leres pisan. haturnuhun teh

    BalasHapus
  3. bahasanya runtut dan mudah dipahami. izin share kang

    BalasHapus

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.