MENAKAR SENSITIVITAS PERSEPSI PUBLIK DIANTARA ISU SOSIAL POLITIK DAN INTELEKTUAL HUMANIS

00.20.00



Oleh : Ence Surahman, S.Pd

Tulisan ini ditulis beberapa hari selepas mencuatnya isu Ronny Setiawan Ketua BEM UNJ yang status drop outnya dicabut kembali oleh rektornya setelah opini publik mengalir deras dalam bentuk dukungan moril kepada Ronny. Bahkan tanpa paham duduk masalah yang sesungguhnya mayoritas publik terutama mahasiswa aktivis dikampusnya masing-masing ikut meneriakan dukungan dengan cara menyebarluaskan broadcast via instan messaging, sosial media, hingga penandatanganan petisi online melalui situs change.or.id. Tidak hanya itu,  kasus Ronny sampai mengundang dukungan dari anggota DPR RI yang juga mantan aktivis gerakan reformasi 98 Fakhri Hamzah, dan dengan senjata hastag #SaveRony di sosial media twiiter yang dalam waktu beberapa jam langsung menjadi trending topic.
Walaupun banyak kalangan yang menyayangkan ending dari kisahnya yang anti klimaks, namun fenonema itu mencerminkan sesuatu yang cukup jelas tentang sebuah ketimpangan yang entah didasari atas ketidaksadaran atau kekurangsensitifan dari publik Indonesia khususnya para mahasiswa dan kaum intelektual bangsa. Mengapa saya katakan demikian? Kebetulan saat ini saya tergabung dalam relawan kanker yang terhimpun dalam komunitas survivors berbagai jenis kanker di Indonesa yang sedang meneriakan sebuah perjuangan atas dasar harapan. Melaui akun sosial media twitter dengan nama @tamanlevernder dan melalui akun facebook fanspagenya, kami sama-sama menyuarakan sebuah wacana publik agar temuan Dr. Warsito berupa temuan ECVT dan ECCT yang sempat dibekukan oleh pihak dari kemenkes pada tanggal 3 Desember 2015 lalu. Tujuannya agar kebijakan pembekuan temuan anak bangsa ini segera dicabut kembali sehingga para penderita kanker dapat kembali menggunakan peralatan tersebut.
Sudah lebih dari 4 kisah dan testimony dari pengguna yang dishare melalui akun sosial media atas nama komunitas taman lavender, bahkan ada juga testimoni dalam format video disebarluaskan. Hasilnya sangat jauh berbeda dengan isu Ronny yang sangat fenomenal. Sebagaimana sumber dari admin Aliansi Mahasiswa UNJ bersatu yang manyatakan bahwa dalam waktu beberapa jam dukungan yang terkumpul dalam bentuk paraf online sudah mencapai angka 50.000 dukungan, sementara petisi dukungan untuk temuan ilmuwan sekaliber Dr. Warsito yang telah diakui oleh dunia dalam waktu 5-6 hari belum mencapai 10.000 petisi yang menandatangani.
Kedua perbandingan persepsi publik mengenai kedua isu di atas memang terlalu dini untuk digeneralisir sampai membandingkan antara ranah syiasyi dan ilmy, barangkali lebih tepat dengan sebutan isu sosial politik dan inteleksual humanis. Ketimpangan antara sensitivas persepsi publik tersebut barangkali dipengaruhi oleh banyak faktor disamping muatan inti dari kedua isunya. Selain itu isu tentang perjuangan mahasiswa cenderung lebih mudah mendapat dukungan serupa dari sesama mahasiswa yang memiliki rasa senasib sepenanggungan atas nama mahasiswa. Terlebih ketika subjek yang mendapat perlakuan tidak adil dari pihak penguasa adalah sosok aktivis yang memiliki kredibilitas dikomunitas dan jaringannya.
Namun apabila kita bandingkan, secara substantif kedua isu tersebut memiliki kadar isu yang tidak jauh berbeda, bahkan keduanya memiliki banyak persamaan dari pada perbedaannya. Pertama sama-sama isu menyangkut nasib hidup seserorang dan memiliki arti penting untuk pembelajaran serupa yang lebih luas. Kedua, baik temuan ECCT dan ECVT Dr Warsito maupun isu Ronny sempat mengalami masa-masa fenomenal, temuan ECCT dan ECVT Dr. Warsito sudah beberapa kali masuk dan diundang dalam acara-acara televisi dan dalam forum-forum seminar baik di dalam maupun di luar negeri. Kasus Ronny walaupun baru sebentar masuk media, namun memiliki efect yang sangat tinggi sehingga menggiring pihak-pihak tertentu berempati terhadapnya.
Ketiga, secara kasarnya hak-hak Ronny sebagai mahasiswa dijegal dan sempat di cabut oleh Rektornya karena konon dianggap terlalu kritis dengan kebijakan-kebijakannya, sedangkan ECCT Dr Warsito bahasa kasarnya sempat dijegal eksistensinya oleh pihak kementerian kesehatan dengan pada tanggal 3 Desember 2015 (sebelum akhirnya diijinkan kembali setelah pertemuan tiga pihak antara kemenkes, kemenristek dikti dan pihak Ctech Lab pada hari Senin, 11 Januari 2016) kemarin. Keempat, keduanya memiliki tim pendukung, Ronny dapat dukungan dari sesama aktivis dan mantan aktivis pergerakan mahasiswa, sedangkan ECCT dan ECVT mendapat dukungan dari para penderita, keluarga, kerabat dan orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi akan bahaya kanker bagi pada korbannya. Barangkali letak perbedaannya, Ronny adalah civitas akademika yang berstatus mahasiswa dan belum menjalankan perannya sebagai ilmuan dan atau profesi yang sedang dipelajarinya. Sedangkan Dr warsito statusnya sudah menjadi seorang ilmuwan dan sudah memiliki peran penting dala sejarah pembangunan dunia kelimuan SDM Indonesia melalui organisasi Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia bahkan telah menurunkannya pada level mahasiswa melalui organisasi MITI KM.
Dari sekian banyak kesamaan diantaranya kedua isu tersebut  , muncul pertanyaan sederhana mengapa persepsi publik jauh lebih sensitif dalam berempati pada kasus Ronny di DO dari pada temuan Ilmuwan berupa ECCT dan ECVT yang sempat dihentikan oleh pemerintah -sekali lagi sebelum tanggal 11 Januari 2016.  Apakah ini dapat menjadi tolok ukur tentang takaran mengenai sensitivitas persepsi publik tentang sosial politik dan intelektual atau lebih khusus dalam sebutan syiasyi dan ilmy? Wallahu’alam, karena untuk membuktikannya menjadi kebenaran umum (common sense) apalagi kebenaran empiris diperlukan beberapa upaya eksperimen lebih lanjut yang serupa untuk mengukur perbedaan sensitivitas keduanya.  (Yogyakarta, 11 Januari 2016).

You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.