Adab-Adab Hiking

23.51.00

Sumber Gambar

Oleh : Ence Surahman, S.Pd
Disampaikan dalam agenda kuliah on whatsapp group ODOJ MJR SJS 3,
Rabu, 9 Maret 2016

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum wr wb. 

Selamat sore selamat berbahagia. Bagaimana kabarnya? Semoga sehat sentosa. Puji syukur ke khadirat Allah swt, yang telah menciptakan matahari, bulan, bintang, planet, komet, lapisan langit. Maha Suci Allah yang telah menciptakan pegunungan, bukit, lembah, sungai, danau, laut,  dataran rendah, dataran tinggi, sawah, ladang, hutan, padang rumput, semak belukar, berjuta jenis pohon kayu, berjuta jenis rumput, berjuta jenis bunga, berjuta jenis burung, hewan, beragam jenis batuan, tanah, air, lumpur, berjuta kandungan senyawa dalam angin dan udara, serta pencipta kita sebagai hambaNya semoga kita semua tergolong makhluknya yang banyak bersyukur, aamiin YRA. 

Shalawat dan salam selamanya tercurahlimpahkan kepada Panutan kita, pemimpin umat muslim, dan Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW, semoga selama di dunia kita istiqomah mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan risalahnya dan diakhirat nanti pada saat 7 matahari berada tepat di atas ubun-ubun kepala, kita semua mendapatkan syafaat berupa keteduhan dan kenyamanan aamiin YRA. 

Sejujurnya sedikit bingung memilih tema kulsap sore ini, mau tentang bidang kajian saya, sepertinya khawatir terkesan memaksakan karena tidak sesuai dengan need analisis dari para penghuni group ini, seperti kejadian beberapa hari lalu, waktu saya sharing tentang adaptive mobile learning, saya hitung tidak lebih dari 20% yang proaktif berdiskusi dengan tema yang disajikan. Alhasil malam ini saya coba pilih tema yang lebih universal, walaupun ini bukan bidang utama kepakaran saya, hanya diperkuat melalui pengalaman hidup semata. Awalnya saya mau sajikan tema 4 jurus agen of change, namun dugaan saya tema itu biar untuk forum yang lain saja. So kesimpulannya saya sajikna kulsap dengan tema Adab-Adab Hiking. 
Saya hobi naik gunung sejak SMA, sejak mulai bergabung dengan organisasi kelompok pecinta alam, walaupun sebenarnya aktivitas hiking sudah saya lakukan sejak kecil, wong rumah keluarga saya berada dibukit, jadi yang namanya naik dan turun bukit sudah menjadi makanan sehari-hari terutama ketika pergi ke sawah, ke kebun, menyabit rumput, mengembala domba, mencari kayu bakar, bercocok tanam, berkebun, pulang pergi kesekolah, dan lain-lain. 

Cung your hands yang pernah atau suka hiking? Sudah berapa puncak gunung yang Anda daki? Mungkin teman-teman sudah punya pengalaman lebih banyak dari saya, so apa yang saya sampaikan untuk bahan sharing saja, monggo boleh ditanggapi dan ditambahkan. 

Sebelum mulai masuk pada point utama pemabahasan kita, saya mau sampaikan sebuah jawaban mengapa saya hobi hiking?  Jawabannya karena saya terinspirasi oleh salah satu ayat di dalam Al-Qur’an surat Arrum surat ke 30 ayat 41 dan 42. Monggo boleh dibuka ayatnya, yang artinya sebagai berikut :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan akibat perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), Bepergianlah kamu di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah”.

Ayat ini memang bukan dalil tentang anjuran hiking, secara umum berbicara tentang bagaimana kaum-kaum nyeleweng sebelum diturunkannya Nabi Muhammad SAW, sebagaimana halnya kaum Nabi Luth yang di adzab dengan banjir bandang karena perilaku seksual yang menyimpang (LGBT), kemudian Fir’aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan, serta masih banyak lagi kisah-kisah tentang akibat orang-orang yang mempersekutukan Allah SWT. 

Namun demikian ketika berbicara tentang kerusahakan di darat dan di laut yang kontekstual dengan kondisi yang hari ini kita rasakan, seperti banjir dibeberapa daerah, longsor yang seringkali memakan korban, gempa bumi, tsunami, kemudian sungai kotor dengan polusi, sawah kekeringan musim kemarau, kebakaran hutan, sembuaran lumpur yang meluas dan menenggelamkan, menurunnya kesuburan tanah. Beberapa diantarnnya sebagai akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Kebiasaan hidup yang tidak baik seperti membuang sampah sembarangan, keserahakan dalam pengelolaan hutan, penggundulan dan tanpa adanya reboisasi, ilegal loging, pembuangan limbah ke sungai, penggalian migas yang tidak memperhatikan AMDAL serta banyak lagi yang lainnnya. Semua itu merupakan ayat-ayat quaniyah Allah untuk kita sekalian.

Kita sangat memahami bahwa bumi ini tidak akan mengembang, sementara umat manusia mengalami pertumbuhan kuantitas yang sangat pesat, contohnya saja di Indonesia tahun 2000 jumlahnya masih di angka 200 juta jiwa, tahun 2016 sudah lebih dari 253 juta jiwa,  penduduk total di bumi konon sudah mau mencapai angka 7 miliyar. Dari situ bisa diprediksi berapa lahan yang dibutuhkan untuk area perumahan, berapa luas lahan untuk perkembunan, persawahan, industri, lahan tempat kerja dan lain sebagainya, maka disanalah perlu adanya pengaturan yang bijak dari para pemimpin dan pengambil kebijakan agar usia bumi ini tidak dipercepat oleh perilaku manusia itu sendiri.

Kembali ke topik utama kita, itulah alasan mengapa saya melibatkan diri untuk bergabung dalam organisasi pecinta alam, tujuannya setidaknya untuk memahamkan diri sendiri tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, agar semua penghuninya tetap dalam kondisi yang saling menguntungkan bukan saling merugikan, dan fungsi kepemimpinan di bumi Allah bebankan kepada manusia sebagai khalifatul fil ard. 

Selanjutnya, ketika kita melakukan perjalanan hiking atau sejenisnya apakah itu kegiatan susur sungai, susur pantai, susur gua, panjat tebing, susur kampung dan pedesaan, bahkan susur perkebunan dan persawahan seperti yang pernah saya dan teman-teman saya lakukan, semua secara langsung ataupun tidak langsung mengajar banyak hal yang mengerucut pada satu kesimpulan bahwa manusia itu kecil dan Allah itu besar, bahwa manusia tidak ada apa-apanya tanpa kehendak dari Allah SWT. Di samping itu yang juga penting adalah tumbuhnya kesadaran dan rasa memiliki serta pemahaman untuk menjaga kelestariannya.

Inti dari adab-adab hiking sebetulnya hanya ada 3 perkara. Materi ini saya dapatkan persis ketika kelas X SMA. Ketiga perkara tersebut adalah :
1.      Tidak mengambil sesuatu kecuali gambar
2.      Tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan
3.      Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu

Sebenarnya rumus itu kalau dipahami dan diamalkan oleh mereka yang menyadari atau mengaku-ngaku dirinya sebagai pecinta maupun penikmat alam, insyaAllah tidak akan kita dapatkan tumpukan sampah disepanjang pos pendakian, sampah di area perkemahan, sampai disepanjang pinggir pantai. Namun sayangnya mereka hanya penikmat alam yang tidak paham adab-adabnya. Bagi yang pernah mendaki dan pernah meninggalkan atau membuang sampah sembarangan, saya mengajak teman-teman untuk beristighfar dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali jika suatu saat nanti kembali mendaki dan kegiatan semacamnya.

Cukup dengan memahami dan komitmen untuk mengamalkan ketiga rumus di atas maka insyaAllah kita akan terhindar dari orang-orang yang berkontribusi mengotori dan merusak keseimbangan alam. 

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat meminimalisir pelanggaran ketika mendaki? Tips berikut dapat menjadi salah satu referensi. 

1.      Niatkan dalam hati bahwa mendaki merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mentadzaburi ciptaanNya maha sempurna. 

2.      Pastikan tiada langkah terayun tanpa dzikir terlantun (hikayat Matagira no 2).

3.      Semakin tinggi gunung yang kau daki semakin banyak pahala yang kau dapati (hikayat Matagira no 3)

4.      Bawalah barang-barang secukupnya, jangan berlebihan, baik pakaian ganti, maupun makanan. Maka diperlukan manajemen pra perjalanan yang baik. 

5.      Hindari makanan dan minuman yang menggunakan bungkus yang mengharuskan untuk dibuang, maka sebaiknya makanan dikemas dalam kemasan yang akan dibawa pulang seperti toples, tuperware, dan semacamnya. 

6.      Jangan lupa bawa plastik untuk tempat sampah dan harus ada PJ yang bertugas memastikan tidak ada anggota tim yang membuang sampah sembarangan. 

7.      Memang baik membuang sampah pada tempatnya ketika sudah turun gunung namun jauh lebih baik jika mampu tanpa ada satupun sampah yang dibuang. Caranya lihatpoint no 5. 

8.      Ketika terpaksa PUP ketika dalam pendakian, pastikan pup ditempat yang agak jauh dari keramaian orang dan pastika membuat galian agar tidak menimbulkan bau yang akan mengundang makhluk lain mendekat. Dan dipastikan galian tertutup setelah PUP selesai, sehingga kembali seperti sediakala.

9.      Tidak diperkenankan bersuara dan berisik karena hal itu akan mengganggu keseimbangan ekosistem disekitarnya, mungkin akan ada hewan buas maupun hewan melata yang terganggu dengan kebisingan pendaki.

10.  Sebenarnya membuat perapian hanya dijinkan dalam agenda pramuka dan atau dalam kondisi darurat seperti cuaca dingin dan tidak ada penghangat lain, atau dalam kondisi darurat ancaman hewan buas, karena salah satu fungsi api unggun adalah untuk menghindarkan dari serangan hewan buas. 

11.  Jika terpaksa menyalakan perapian, maka dipastikan area perapian aman dari peluang api menyebarluas dan membakar hutan. Caranya buat perapian benar-benar beralaskan tanah bukan gambut, kayu, ataupun sisa-sisa semak. Dan setelah fungsi utama perapian terpenuhi, maka wajib hukumnya untuk memadamkan hingga benar-benar padam. 

12.   Merokok adalah perkara yang sebaiknya dihindari ketika mendaki, kalaupun terpaksa merokok karena sudah addict, maka dipastikan puntung tidak dibuang sembarangan. 

13.  Hindari camping di pinggir sungai, pertama khawatir pada saat malam tiba-tiba airnya meluap dan menghanyutkan, kedua sungai adalah sumber air semua makhluk hidup, kalau lokasi tersebut adalah tempat biasa hewan mengambil air minum, kasian mereka jika rasa hausnya tertahan karena ada kita yang menggaggu mereka. Atau kalau jumlah mereka lebih banyak dikhawatirkan kita dijadikan mangsanya.

14.  Memasak di pendakian memang memberikan suasana yang berbeda dan istimewa, namun sebaiknya makanan dibuat cepat saji atau sudah siap saji seperti macam-macam roti, telur rebus, ubi rebus, sosis siap saji. 

15.  Yang paling penting adalah jaga kebiasaan ibadah harian, terutama yang wajib, jangan sampai niat tadzabur kita menjadi hilang karena kita lalai dalam hal-hal yang wajib. Syukur kalau masih bisa menjaga aktivitas yang sunah seperti dhuha, tilawah, tahajud, dzikir dan lain sebagainya. insyaAllah tahajud dipuncak gunung mampu memberikan power yang jauh lebih dahsyat dalam proses penyucian jiwa kita. 

Demikian yang dapat saya sajikan, mohon maaf atas kekurangannya, semoga bermanfaat, aamiin YRA. 


Nb: 
Matagira : Organisasi Pecinta Alam Muslim yang kami dirikan di Bandung. 

You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.