PERSONAL BRANDING AXCELERATION

12.35.00

Sumber gambar

By: Ence Surahman

Banyak faktor yang menjadi penyebab kesuksesan hidup seseorang. Salah satu yang tidak kalah penting untuk diperhatikan di samping pendidikan, pengalaman, motivasi, kesempatan, jaringan adalah personal branding. Personal Branding penting untuk dipahami dan dibangun oleh masing-masing kita. Personal branding erat kaitannya dengan teori pencitraan. Pencitraan diri bukan manipulasi tampilan kebohongan melainkan real character seseorang. Tom Peters dalam (Susanto) menyebutkan konsep personal branding adalah tentang bagaimana Anda melakukan redesigning for self image, dengan melakukan sesuatu hal yang memiliki nilai unique dan special yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Banyak upaya membangun akselerasi personal branding. Pertama, Diferensiasi Diri. Daya pembeda diri merupakan salah satu bentuk keunikan yang akan mewujukan personal branding seseorang. Daya pembeda diri juga sangat terbantung pada bentuknya. Maka kita perlu cermat membangun daya pembeda diri tersebut. Barangkali kita sepakat bahwa sejarah mencatat orang-orang terkenal disebabkan karena dua faktor, pertama kebaikannya dan kedua keburukan atau kekejamannya. Kita tidak perlu menyebut contohnya karena sejarah menggambarnya dengan jelas.

Dengan demikian kita perlu memunculkan daya beda positif dalam diri kita yang menjadi keunggulan kita. Dalam waktu bersamaan kita perlu menekan dan menghilangkan daya beda negatif kita yang itu adalah kelemahan kita. Memang setiap orang memiliki kelemahan, namun kelamahan tersebut bukan dipublikasi melainkan diperbaiki. Kadang saya heran dengan orang-orang yang pesimistis yang sering meluncurkan kata-kata semacama, “saya memang tidak bisa melakukan itu, mungkin saya tidak mampu, sepertinya saya memang begini, inilah karakter diri saya, saya tak ada lagi waktu untuk belajar, saya pasrah saja dengan keadaan”.

Sikap mental yang pasrah seperti itu perlu ditekan dan digantikan dengan sikap mentah optimisme penuh harapan. Harapan yang disertai dengan keyakinan dan disempurnakan dengan ikhtiar lahiriyah. Banyak orang memiliki mimpi yang namun mimpinya tidak rasional dan tidak terukur sehingga ia tidak mampu mewujudkannya, namun tidak sedikit orang yang memiliki mempi yang terukur namun karena tidak diwujudkan dalam proses ril sehari-hari akibatnya sama-sama tidak berhasil. Orang yang berhasil adalah yang memiliki mimpi, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. sehingga apa yang ia pelajari, apa yang ia lakukan, apa yang ia perdalam semuanya bermuara pada visi hidup yang hendak diwujudkannya.

Diferensiasi diri dibangun dengan memperhatikan potensi diri dan kekosongan posisi disekitar kita. Yang dimaksud dengan kekosongan posisi adalah apa yang belum ada dan belum menjadi cintra diri orang lain. Biasanya kalau dalam lingkungan kerja hal itu dikenal dengan daya keahlian seorang pegawai yang tidak dimiliki orang lain. Maka kita perlu melakukan analisis lingkungan sekitar untuk melihat bagaimana peta keunggulan orang lain. Semakin luas peta lingkungan yang kita potret maka akan semakin cepat dan tepat kita memilih pola citra diri yang akan dibangun.

mungkin Anda berpikir bahwa membangun citra diri tidak perlu memperhatikan peta citra disekitar kita, just do it dan ketika citra diri kita lebih menonjol dari yang lain maka kita akan memenangkan posisi. Pandangan tersebut tidak terlalu keliru namun kita sedang berbicara tentang formula akselesai citra diri. waktu berjalan begitu cepat dan kita tidak tahu kapan kita dapat mengungguli citra diri orang lain. Maka untuk mewujudkan akselerasi citra diri kita perlu menggunakan strategi salah satunya melalui pemetaan citra diri disekitar kita.

Kedua, Build Trust. Salah satu keunggulan yang dimiliki Muhammad SAW adalah kejujuran yang melahirkan kepercayaan publik.  Kepercayaan publik dibangun bukan saja oleh sifat jujur kita. Banyak yang hal yang harus kita perhatikan untuk membangun kepercayaan publik tersebut diantaranya keunggulan dan kecepatan kerja dan sikap tanggungjawab terhadap pekerjaan. Di samping itu kepercayaan juga dibangun dengan kedekatan dan keakraban. Setiap orang memiliki nilai diri masing-masing, maka kita perlu selalu menghargai nilai diri tersebut. Kenali semua orang dilingkungan kita, dari yang posisi paling atas sampai yang paling bawah. Bagi kita posisi itu bukan tidak penting melainkan ada yang lebih penting bahwa kita sama-sama manusia yang ingin diperlakukan manusia secara manusiawi.
Ketiga, Social Skills, merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam akselerasi personal branding. Banyak orang yang gagal dalam lingkungan kerja bukan karena tidak profesional dan tidak kompeten dengan pekerjaannya melainkan karena buruknya sikap sosial yang diperlihatkannya. Sehingga publik melihat hal tersebut sebagai sebuah penghancur dari citra positif lainnya. Di sisi lain tidak sedikit orang yang tidak unggul dalam kepakaran dan profesionalismenya namun ia selalu dipercaya lingkungannya karena kecakapan dalam menunjukan sikap sosial yang memuaskan orang-orang disekitarnya. Tentu bagi kita keduanya penting diperhatikan. Kita harus unggul dalam kompetensi dan pandai dalam menunjukan sikap sosial dilingkungan kita.

Social skill dapat diwujudkan dengan kecermatan kita membaca situasi, selanjutnya menempatkan posisi kita sebagai orang yang butuh orang lain. Secara prinsip kita tidak bisa lepas dari peran-peran orang lain. maka sadarilah itu dan jangan pernah menunjukan sikap merasa semua mampu dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. bersikaplah supel dan baik pada semua orang termasuk kepada orang yang tidak menyukai kita. Karena suatu saat mereka juga akan menyukai yang baik. Memang begitulan fitrahnya. Justru kita harus relfeksi jika sekian lama ada orang yang tidak menyukai kita dan tidak kunjung berubah menjadi suka, berarti memang ada hal buruk dalam diri kita yang harus segera diperbaiki.

Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk membangun personal branding mulai dari metode tradisional sampai yang modern, dari yang sederhana sampai yang kompleks dengan bantuan teknologi. Semuanya penting dilakukan, metode tradisional harus dilakukan dalam keseharian kita melalui interaksi langsung maupun tidak langsung. Begitupun metode modern juga perlu kita lakukan. Salah satu yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah tentang bagaimana kita bercerita kepada dunia melalui sosial media.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa apa yang diutarakan dan dilakukan dirinya dalam jejaring maya pada dasarnya akan menjadi faktor-faktor penilian publik terhadap citra dirinya. Orang yang terbiasa mengeluh di status sosial media dapat dipastikan memang pengeluh. Orang yang suka menghujat dan berujar dengan ujaran kasar boleh jadi kesehariannya juga begitu, dengan demikian penting bagi kita memperhatikan hal tersebut. Rumusnya jadikan sosial media sebagai media membangun citra positif diri kita bukan media penghancur branding kita.

Terakhir, formula personal branding axceleration dapat dibangun dengan cara memenuhi teori present in absence.  Teori ini sangat penting dijadikan bahan evaluasi dan refleksi diri kita dimana pun kita berada. Kita harus memastikan semua orang membutuhkan dan merindukan kita. Sekaligus mereka dapat merasakan kehadiran kita dalam ketiadaannya. Sebaliknya kita harus memastikan jangan sampai publik tidak merasakan keberadaan kita dalam kahadirannya apalagi jika kehadiran kita tidak diharapkan karena kita selalu menjadi trouble maker dilingkungan kita.

Demikian semoga bermanfaat.

Disarikan dari obrolan singkat bersama guru kehidupan di Bandung, 20 November 2017.



You Might Also Like

0 komentar

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.