BAROKAH MUJAHADAH

08.08.00


Pembaca yang budiman, tulisan ini saya buat tepat ketika saya baru saja mengetahui hasil pengumuman seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebagai dosen di Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Senin, 11 Desember 2017. Tulisan ini dibuat bukan dalam rangka pamer kelulusan saya dalam seleksi CPNS, melainkan untuk berbagi pengalaman kepada para pembaca yang barangkali ada pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman yang saya tuangkan dalam tulisan ini.
Sesuai judul yang saya tulis, inti dari tulisan ini sudah dapat ditebak oleh para pembaca yang budiman yakni seputar kebaikan yang hadir dikarenakan kesungguhan dalam berusaha atau yang saya sebut dengan istilah barokah mujahadah. Secara bahasa muhadah berarti perang dan menurut syara’ dimaknai perang dengan musuh-musuh Allah, adapun makna yang saya maksud adalah tentang kesungguhan jiwa dalam berusaha dan berjuang mencapai sebuah impian atau mewujudkan cita-cita.
Barangkali pengalaman yang akan saya ceritakan belum seberapa heroik dibandingkan dengan kisah dan pengalaman para pembaca yang budiman, namun bagi saya pribadi pengalaman yang sudah dijalani sangat penuh dengan kejutan yang tidak terduga. Itulah mengapa saya tidak dapat menahan hati untuk membagikannya semoga menjadi inspirasi bagi pembaca yang merasa ada kesamaan kondisi dan potensi dengan sebagian cerita saya.
Sebagai anak desa yang nan jauh dari perkotaan, jangankan bisa menjadi dosen di perguruan tinggi negeri, untuk dapat berkesempatan kuliah apalagi sampai jenjang pascasarjana saja sudah menjadi prestasi tersendiri. Saya berasal dari kampung yang cukup terbelakang dalam beberapa hal baik dari infrastruktur akses jalan, sarana informasi apalagi akses dan sarana lain sebagaimana diperkotaan. Masa kecil saya habis dengan bermain di sawah, menyabit rumput, mengembala domba, mencari kayu bakar, mandi di sungai, mencari ikan belut di sawah, bermain layang-layang dan aneka permainan anak desa lainnya. Itulah kegiatan harian di samping belajar di sekolah dan mengaji di masjid kampung.
Sampai saat ini, Saya adalah satu-satunya teman sekelas waktu SD yang berkesempatan untuk menikmati pendidikan hingga pada jenjang pascasarjana. Hal itu bukan karena saya berasal dari keluarga yang kaya atau keluarga berpendidikan tinggi. Karena ayah dan ibu saya hanya berkesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai jenjang SD. Keduanya berprofesi sebagaimana orang kampung pada umumnya. Mengelola sawah, berladang, berkebun dan memelihara ternak domba. Rendahnya minat studi lanjut masyarakat tidak lepas dari budaya masyarakat di desa saya yang belum memprioritaskan pendidikan sebagai kebutuhan, akhirnya kebanyakan pemuda desa selepas lulus SMP atau SMA langsung mencari kerja. Tidak terkecuali kakak dan adik kandung saya. Kakak saya menikah selepas lulus MTs dan adik saya memilih untuk bekerja di pabrik sawit selepas lulus SMA. Sudah sempat saya bujuk untuk mencoba daftar kuliah namun tidak berhasil.
Saya harus banyak bersyukur kepada Allah karena diberikan tingkat percaya diri yang tinggi dalam belajar dan berkompetisi pada semua jenjang pendidikan yang saya tempuh. Sekalipun saya dari kampung namun motivasi saya untuk maju dan unggul dalam semua level seolah sudah mendarahdaging dalam diri saya. Hal itu terbukti dari prestasi akademik saya yang selalu membanggakan kedua orang tua saya. Sejak SD kelas 1 sampai lulus SMA alhamdulillah saya selalu juara 1 kecuali pada caturwulan 1 kelas III SD. Saat itu saya pernah satu kali juara 2.
Sewaktu kuliah S1 di Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung 2008-2013. Alhamdullah saya berhasil menorehkan beberapa catatan prestasi yang baik, seperti pernah menjadi Juara 1 ajang pemilihan mahasiswa berprestasi UPI tahun 2011. Di samping itu pernah menjadi lulusan terbaik 1 di jurusan dengan IPK 3,83 (tertinggi seangkatan) dan dengan predikat cumloude. Begitu pula pada waktu menempuh jenjang studi S2, saya berhasil menjadi lulusan pertama dari satu angkatan dengan predikat cumloude.
Namun yang tidak kalah menarik adalah nikmat Allah yang senantiasa memberikan bimbingan kepada saya agar dapat seimbang dalam aktivitas akademik dan non akademik. Dalam setiap jenjang pendidikan yang saya tempuh selalu saya sibukkan dengan aktivitas di organisasi. Sebagai contoh waktu SD saya menjadi ketua kelas dan ketua murid (semacam ketua OSIS). Waktu SMP dan SMA saya menjabat sebagai ketua OSIS juga aktif dibeberapa ekskul lainnya seperti PMR, PRAMUKA, PASKIBRA, PECINTA ALAM, olahraga, beladiri dan lain-lain.
Sewaktu kuliah S1 juga saya aktif di himpunan, kemudian pernah menjabat sebagai Ketua Umum Program Tutorial Pendidikan Agama Islam Mata Kuliah Dasar Umum (PAI MKDU) Universitas Pendidikan Indonesia. Waktu kuliah S2 tahun pertama diamanahi sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2015. Tahun kedua mendapat amanah yang lebih besar lagi yakni sebagai Ketua Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Klaster Mahasiswa (MITI KM) 2016.
Kadang saya sendiri juga berpikir bagaimana bisa semua itu berjalan beriringan, sedangkan tidak sedikit teman saya yang kadang kurang dapat menyeimbangkan antara akademik dan non akademik. Tentu jika dipikirkan lebih jauh hal itu tidak lepas dari nikmat Allah yang sebagiannya diturunkan melalui doa, petuah, arahan, motivasi orang tua, keluarga, guru-guru, dosen, pembimbing, dan teman-teman di sekitar. Bagi saya semua orang di sekitar saya berpengaruh terhadap diri saya, dan bagaimana saya memperlakukan lingkungan saya juga sangat berdampak pada bagaimana saya saat ini.
Saya sangat berhutang budi kepada orang tua saya yang mendidik dengan disiplin yang tinggi, kami waktu kecil kalau mau dapat uang harus bekerja dulu apakah nyabit rumput, nyari kayu bakar, atau bawa hasil panen dari sawah. Disiplin dan sikap kerja keras itu yang kemudian menyatu dengan jiwa dan terbawa sampai waktu kuliah dan sampai saat ini. Begitu pula bagaimana guru-guru saya mendidik di sekolah dan di luar sekolah, semuanya sangat berdampak pada pengembangan kepribadian saya hari ini. Walaupun saya selalu juara satu bukan berarti saya tidak pernah dijewer guru. Waktu kelas 2 SD saya pernah di jewer wali kelas gara-gara membuat nangis anak kepala sekolah. Waktu SMP pernah dihukum jalang jongkok dan push up gara-gara telat sampai sekolah (maklum jalan dari rumah ke sekolah sekitar 9 KM) dan kadang kendaraan umum yang ditumpangi sering lama menunggu penumpang. Begitupula waktu SMA saya pernah ditempeleng oleh guru olahraga gara-gara tidak menggunakan celana seragam olahraga pada waktu jadwal olahraga (waktu itu celananya dipinjam teman dan tidak dikembalikan). Juga pernah ditempeleng pembina paskibra gara-gara tikda fokus ketika latihan PBBAB. Semua itu saya jadikan sebagai bentuk umpan balik atas kekurangan saya yang harus saya perbaiki. Dan saya selalu memegang satu prinsip yakni tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jadi kalau hari ini saya salah, maka besok dan seterusnya tidak boleh salah lagi.
Di samping beberapa hal pahit tersebut, tentu banyak juga pengalaman manis yang menjadi bukti kesungguhan dalam perjalanan belajar saya. Contohnya pengalaman dipercaya sebagai delegasi peserta olimpiade Matematika waktu SD, SMP, peserta olimpiade waktu SMA, dan pernah dijuluki Profesor oleh Guru Matematika waktu SMA kelas XI gara-gara berhasil memecahkan rumus yang tidak terpecahkan oleh teman-teman yang lain. Itu sebagian kenangan manis di samping momentum ketika mendapat hadiah juara 1 setiap kenaikan kelas.  
Tapi point yang hendak saya sampaikan bukan tentang gambaran hasil yang saya ceritakan, melainkan bagaimana hasil itu bisa diraih? Menurut saya ini jauh lebih penting saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman. Dari kecil saya tidak tahu apakah IQ saya tinggi sehingga saya selalu juara kelas. Memang waktu SD kelas 1 ketika teman-teman yang lain masih mengeja satu paragraf tulisan guru di papan tulis. Saya sudah bisa menghapalnya dalam beberapa menit. Begitu pula dengan perkalian dan kecepatan menulis. Tapi menurut saya, hal yang paling membedakan saya dengan yang lain adalah sikap bersungguh-sungguh dalam belajar. Ketika saya sedang belajar, maka saya akan fokus pada apa yang saya pelajari. Pernah beberapa kali saya keluar kelas sengaja terlambat hanya karena saya merasa belum memahami materi yang guru ajarkan. Siswa yang lain ketika bel berbunyi tanda waktu pulang sudah tiba mereka langsung berkemas untuk pulang. Saya sering menyengaja keluar terlambar untuk membaca materi, mengerjakan ulang soal latihan agar benar-benar dapat menguasai materi. Di samping itu setiap materi yang hendak dipelajari di sekolah pasti sebelumnya pernah saya baca walaupun sepintas.
Sekarang saya memahami teorinya, salah satunya teori mastery learning, yang salah satunya menerangkan bahwa pada dasarnya semua murid dapat menguasai setiap materi yang diajarkan, hanya yang berbeda adalah kecepatan masing-masing dalam menguasainya. Ada murid yang dapat menguasai dalam beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari bahkan ada yang baru memahami ketika sudah naik kelas. Dengan begitu ketekunan yang tinggi dalam belajar akan berpengaruh terhadap percepatan penguasaan materi yang dipelajari.
Ketekunan dalam belajar sewaktu kecil, alhamdulillah terbawa hingga saat ini, saya bukan orang yang cepat puas dalam mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu saya selalu lebih tinggi dari waktu yang saya miliki untuk menguasai hal tersebut. Saya selalu bertanya, bertanya dan terus bertanya hingga saya menemukan jawaban. Walaupun suatu waktu jawaban tersebut kadang lupa lagi. Kemudian saya harus belajar lagi. Etos belajar seperti ini kelihatannya tidak semua orang memilikinya. Yakni etos belajar yang tidak cepat puas dan selalu ingin mencoba hal baru yang lebih menantang.
Pengalaman waktu bergabung dengan Ekskul Kelompok Adat Pecinta Alam (KAPA) di SMA sangat membantu saya untuk berani berkelana dalam hidup. Saya selalu yakin di mana pun saya berada saya harus selalu belajar untuk dapat beradaptasi. Karena di pecinta alam kita diajarkan praktik sosiologi dan antropologi masyarakat. Hal itu pula yang mendorong saya berani meninggalkan kampung halaman untuk belajar. Sewaktu saya kuliah S2 di Yogyarkata. Orang-orang di kampung pada heran untuk apa kuliah jauh-jauh, terus bagaimana kalau sakit, siapa yang ngurus dan lain-lain. bagi saya di mana pun saya berada maka orang-orang disekitar saya adalah keluarga saya.
Di samping itu di pecinta alam kami diajari tentang teknik bertahan hidup (survival). Biasanya materi ini kami praktikkan di hutan, namun ternyata polanya bisa juga diterapkan diperkotaan. Salah satu teknik agar saya dapat meminimalisir pengeluaran sewaktu kuliah adalah dengan teknik mutualisme dengan masjid. Saya menjadi takmir masjid dan saya bisa tinggal di ruang takmir sehingga biaya kostannya tidak ada. Hal itu saya lakukan dari SMP, SMA, S1 dan S2. Sebagian cerita ini pernah saya ceritakan dalam tulisan pada bulan agustus 2016. Rupanya kebiasaan saya nyaman tinggal di masjid penyebabnya adalah karena waktu mengaji di kampung setelah pulang ngaji bada isya kami tidak pulang ke rumah melainkan tidur bergeletak di masjid agar shalat subuhnya tidak kesiangan.
Point berikut dalam konsep barokah mujahadah adalah pola hidup efisien baik dalam hal penggunaan materi (uang), waktu, sumber daya yang dimiliki dan efektif dalam pemanfaatannya. Banyak orang yang sering gagal dalam mencapai target-target kecil dalam hidupnya hanya karena manejemen aktivitasnya kurang baik. Manajemen aktivitas erat kaitannya dengan pemahaman tentang manajemen prioritas. Ilmu ini akan mudah dikuasi oleh mereka yang aktif dalam organisasi namun juga unggul dalam prestasi akademik. Karena ilmunya pasti mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Manajemen aktivitas juga erat kaitannya dengan manajemen waktu. Dan kualitas manajemen waktu seseorang sangat dipengaruhi oleh kedisiplinannya dalam melaksanakan kewajiban sehari-hari. Indikator sederhananya adalah komitmen dalam melaksanakan shalat fardu lima waktu tepat waktu dan berjamaah bagi laki-laki. Ketika orang sudah istiqomah dalam hal itu maka insyaAllah urusan lainnya juga akan lebih teratur. Sehingga kalau kita sering merasa target-targetnya berserakkan, hal pertama yang harus dievaluasi adalah shalat lima waktunya. Baru setelah itu mengoreksi hal-hal lainnya.
Yang terakhir adalah formula untuk meraih mimpi selain dengan belajar sungguh-sungguh, kemudian kerja keras, disiplin tinggi, perbaiki hubungan dengan manusia, lingkungan dan Allah. Allah itu Maha Kuasa, Maha Pemberi, maka mintalah, jangan sungkan untuk meminta kepadaNya, berdoa pada waktu-waktu yang mustajab doa, kemudian bernadzar dengan hal-hal yang dibenaran syari’at juga dapat dilakukan. Maka dengan mujahadah karena Allah insyaAllah hajat kita akan diberikan kebarokahan yakni berupa kebaikan-kebaikan atas apa yang kita ikhtiarkan. Wallahu’alam bishowab.

Malang, 11 Desember 2017
Pembelajar sepanjang usia
@encesurahman



You Might Also Like

1 komentar

  1. selamat ya mas, tesnya lolos, semoga bisa ketularan nantinya ^_^

    BalasHapus

You can give whatever messages for me,,

Total Pengunjung

Profil

Ence Surahman, Pecinta kesederhanaan, penikmat ketenangan dan pejuang kebahagiaan asal Cikaramat Ds. Mekarmulya Kec. Talegong Kab. Garut Prov. Jawa Barat dapat dihubungi via ence@miti.or.id | @encesurahman89@gmail.com | Fb: Ence Surahman Kesatu dan Ence Surahman Kedua | @encesurahman | IG: Ence Surahman | | encesurahman.blogspot.co.id

Template by Blogger, Content of Author. Diberdayakan oleh Blogger.