Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Kecewa Menyapa

Oleh : Ence Surahman Sumber Gambar:  http://aerodest.wordpress.com/2011/12/30/saya-pernah-kecewa-kamu/ Semua orang yang normal tentu pernah merasakan “kecewa” dalam hidupnya, saya, anda dan juga yang lainnya. Karena kecewa merupakan salah satu perkara yang manusiawi, itu berarti semua orang tanp terkecuali akan merasakan kecewa terhadap sesuatu. Apakah itu seorang  atasan yang kecewa terhadap kinerja bawahan seorang bos yang kecewa dengan karyawannya. Pemimpin yang kecewa dengan kinerja para pemeran tapuk kepemimpinanya. Bahkan suami istri yang kecewa kepada pasangannya, ayah bunda yang kecewa kepada tingkah anaknya. Guru yang kecewa terhadap perilaku anaknya. Teman yang kecewa kepada temannya yang lain. Bisnisman yang kecewa terhadap kinerja dari pathnernya, rekan kerja di perusahaan, di sebuah organisasi dna perkumpulan apapun.                 Sekarang mari kita pahami lebih dalam apa itu kecewa, lalu mengapa muncul rasa kecewa dan bagaimana cara mengatasinya?. Secara

Episode Perjuangan, Dulu, Sekarang dan Nanti

Oleh : Ence Surahman Gambar :  http://bocahbancar.wordpress.com Pada suatu kesempatan saya bertemu dengan adik tingkat yang cerita banyak hal tentang amanah dan tanggungjawab yang harus ia emban. Maklum kali ini ia baru saja di berikan beberapa kepercayaan mengurusi beberapa organisasi. Baik di himpunannya, di fakultas, di universitas juga, bahkan juga ada amanah di ekstra kampus. Dalam pembicaraan kami yang berjalan dengan hangat, saya menemukan gelagat rasa kurang PD, rasa penuh tanya “kenapa harus begini jadinya?”, dan perasaan lain yang berhasil saya tarik dari raut wajah ia ketika bercerita. Ya, mungkin agak wajar karena ia sendiri merasa dengan seringnya tuntutan memimpin rapat, akhirnya kuliah tidak bisa seperti ketika pertama ia masuk kampus, kali ini ia harus bisa mengatur waktu lebih rapi lagi, karena banyaknya jadwal harian yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Wajar, kali ini ia di tuntut untuk lebih rapi urusan dan manajemen waktunya, ketika tingkat satu ia

Gunung Gede, Ini Ceritaku

Oleh : Ence Surahman Foto : Upil-D'pil Teringat perkataan seorang syekh di Mesir, yakni As-Syahid Hasan Albanna, yang kurang lebih beliau pernah mengatakan bahwa “Kenyataan hari ini adalah mimpi masa lalu, dan kenyataan masa depan adalah mimpi hari ini”. kalau saya renungi lebih dalam, rupanya pepatah tersebut bukanlah pepatah biasa, melainkan pepatah motivasi yang luar biasa. Begitupun cerita yang akan saya paparkan dalam tulisan ini juga merupakan mimpi saya dimasa lalu. Ya, yang saya maksud adalah proses pendakian ke Gunung Gede. Impian itu saya azamkan sejak saya kelas XI SMA. Pada waktu itu saya mengikuti ekstra kurikuler Kelompok Pecinta Alam (KAPA), sehingga aktivitas mendaki, memanjat tebing, dinding, menyusuri pantai, goa, dan aktivitas outdoor lainnya sangat saya gemari. Pada waktu itu saya pernah mendengar salah seorang guru yang bercerita tentang Gunung Gede yang berada di 3 kabupaten yakni Cianjur, Bogor dan Sukabumi. Sejak saat itu, saya memimpikan un

Boleh Kehilangan Segalanya, Kecuali Harapan

Oleh : Jaisyurrahman Sumber Gambar :  http://puchsukahujan.wordpress.com/2011/12/24/memiliki-kehilangan/ Pada Senin, 2 Juli 2012, tepat pukul 08.00-10.00 WIB saya dijadwalkan untuk ngisi training untuk para peserta pelatihan calon tenaga kerja Indonesia ke luar negeri, tepatnya ke korea, Cina dan Jepang. Jumlah peserta yang lebih dari 150 peserta berasal dari berbagai daerah Di Jawa Barat. Program dinas ketanagakerjaan pemprov Jabar ini merupakan realisasi program Jabar Mengembara yang di gagas oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.           Dengan berlari-lari saya tiba di tempat jam 08.03 WIB ketika itu sudah menunggu Pak Muhammad Ridwan guru saya yang juga mengajak saya untuk bergabung di timnya. Setibanya ditempat, dengan senyum manis Pak M.Ridwan mengatakan bahwa jadwal ngisi trainingnya di batalkan karena pihak manajemen sedang instalasi untuk proses Video Conference dengan pihak Pemprov dari UPI yang merupakan tempat diselenggarakannya kegiatan pelatihan tersebut.   

Continuous Improvement, Kuncinya.

Oleh : Jaisyurrahman Sumber Gambar :  http://adityairawansport.wordpress.com/2011/11/21/plan-do-cheek-action-continuous-improvement/ Kita terlahir dizaman sekarang yang serba penuh kompetitif ini bukan kita yang menginginkan, tapi Tuhan yang mentakdirkan kita terlahir dari rahim Ibu kita, kita terlahir sebagai laki-laki ada yang perempuan, sebagai orang desa ataupun orang kota, negara A, kota B, dan lain sebagainya semua itu bukan keinginan kita. Kita tidak pernah bisa mengajukan untuk lahir dari rahim Fulanah, terlahir di negara A, kota C, sebagai laki-laki ataupun perempuan, karena itu kehendak Sang Maha Kuasa. Kita sebagai hambaNya hanya punya tugas untuk mempertahankan diri, mengabdikan padaNya, dan memastikan diri kita untuk bisa eksis dimanapun kita berada, dalam kondisi apapun. Terlebih dizaman yang serba penuh persaingan seperti sekarang. Bagi sebagian orang mungkin memberatkan tapi bagi sebagian yang lain bisa jadi peluang. Lalu bagaimana dengan Anda? Untuk menja

Jangan Salah Menggunakan Kaca Mata

Oleh : Jaisyurrahman Sumber Gambar : http://fast-blogger.blogspot.com/2012/02/kaca-mata-internet.html Apa yang terjadi dan Anda rasakan ketika Anda sedang sariawan dalam kondisi parah (jumlah banyak dengan kondisi memprihatinkan)? Dugaan saya pasti mulut Anda akan merasa terganggu dan tidak nyaman. Terutama ketika Anda mengunyah makanan yang sedang Anda nikmati. Bahkan saya menduga sekalipun Anda sedang makan, makanan kesukaan  Anda, pasti dalam kondisi seperti itu Anda tidak akan merasakan kenikmatan dibanding ketika kondisi Anda sedang sehat.                 Dalam kehidupan sehari-hari, tentu Anda sering bertemu dengan kondisi dimana Anda diminta ataupun tidak dimintai untuk memberikan penilaian terhadap sebuah perkara. Apakah itu pekerjaan karyawan Anda, pekerjaan anak didik Anda, atau hasil kerjaan tugas mahasiswa Anda, bawahan Anda, asisten Anda, orang suruhan Anda, teman bisnis Anda, pathner Anda, pasangan Anda, dan siapapun dalam hidup Anda.                 Dalam

Berhentilah Mengkritiknya Lalu Mulailah Mencintainya

Oleh : Jaisyurrahman Sering kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kadang realita tidak seindah mimpi. Kuliah yang sedang Anda jalani boleh jadi tidak seindah bayangan ketika memimpikannya sewaktu sekolah. Pekerjaan yang sedang Anda jalani saat ini, padahal  itu Anda inginkan awalnya mungkin malah membuat Anda merasa lelah dan ingin segera keluar mencari pekerjaan yang baru. Kalau saya meminjam perkataannya Pak Mario Teguh, beliau pernah mengakatan “berhentilah menilai pasangan Anda, mulailah mencintainya”. Walaupun kontek pesan yang beliau sampaikan yakni pesan untuk pasangan suami istri. Tapi hal ini sangat mungkin para suami atau istri setelah menikah masih saja terus menerus menilai pasangannya masing-masing seperti ketika masih dalam proses selection sebelum menikah. Ya, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan juga Anda yang membaca tulisan ini. apapun pilihan yang sudah Anda putuskan saat ini, baik karir akademik Anda, pekerjaan, termasuk pasangan Anda

Simpul-Simpul Penghambat Kesuksesan

Oleh: Jaisyurrahman  Sumber gambar :  http://mapenduma.co.cc/?cat=4 Banyak sekali buku dipasaran yang mengupas tuntas tentang bagaimana langkah menjadi orang sukses. Mulai dari tips menjadi orang sukses, kunci-kunci hidup sukses, cara cepat menjadi orang sukses, sukses ditempat kerja, sukses kuliah, sukses belajar, sukses berdagang, sukses membangun rumah tangga, sukses membangun relasi bisnis, sukses marketing, sukses menjadi selebritis, sukses menjadi pembicara hebat, sukses membangun perusahaan, dan masih banyak yang lainnya. Namun kalau kita cari buku-buku yang menjelaskan tentang simpul-simpul kegagalan, rasanya cukup sulit untuk kita temukan. Padahal seyogyanya selain dengan membaca buku tentang cara sukses, sebaiknya juga mengetahui simpul-simpul kegagalan dalam hidup, tujuannya sederhana sekali, agar pada pembaca mengetahui hal-hal yang akan membuatnya mejadi gagal dengan begitu ia akan berupaya untuk menghindarinya, atau menjauhkan dirinya dari simpul-simpul ters

Anda Ingin di Stempel Apa?

Oleh : Jaisyurrahman sumber gambar :  http://www.stempel-jogja.com/produk-kami/stempel-kayu/ Setiap orang memiliki fitrah ingin dihargai oleh orang lain, ia ingin eksistensi dirinya di akui. Baik itu ditempat kerjanya, di tempat kuliah atau sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya, dipasar, diterminal, termasuk ditempat ibadah. Semua orang secara manusiawi ingin di anggap ada oleh orang lain. Saya yakin begitupun Anda dan saya juga sama, menginginkan adanya pengakuan dari orang lain tentang diri kita masing-masing. Untuk mendapatkan pengakuan akan eksistensinya dirinya, seseorang akan melakukan berbagai upaya yang ia bisa. Maka kita melihat ada yang menjadi artis, yang menjadi bintang film, yang menjadi pemimpin dikelompoknya, yang menjadi olahragawan, yang menjadi pemuka agama, pendidik, pengusaha, tokoh masyarakat, pejabat, dan lain sebagainya. Karena pengakuan akan eksistensi diri itu merupakan perkara yang wajar, wajar karena kita manusia, yang memiliki

Diingatkan atau mengingatkan

Oleh : Ence Surahman Tersebutlah seorang siswa bernama Michel, siswa kelas IV SD yang memiliki setumpuk perilaku kurang baik yang sering membuat teman-temannya tidak nyaman. Senangnya usil, mengganggu teman yang sedang asyik bermain, bahkan tidak jarang mengganggu temannya yang sedang belajar. Hal ini membuat teman-temannya menjauhi Michel. Merasa dikucilkan dan merasa tidak dianggap oleh teman-temannya, membuat Michel memberanikan diri mengadu kepada wali kelasnya. Ketika Michel menyampaikan kekesalannya, sang wali kelas yang bijak hanya menyampaikan pesan “Michel, kamu lebih senang di ingatkan dan ditegur oleh orang lain atau mengingatkan dan menegur diri sendiri?”, mendengar ungkapan pendek sang guru Michel bertambah penasaran, lalu iapun bertanya “maksudnya bagaimana Bu?”. Sambil tersenyum Bu Guru menjawab “Ibu rasa kamu akan merasa sakit hati jika diingatkan dan ditegur oleh orang lain terkait dengan kebiasaan kurang baik kamu selama ini, maka sebaiknya Michel belajar da

Tip Menghilangkan Nervous

Oleh : Ence Surahman Pernahkah merasa nervous ketika menghadapi sebuah ajang seleksi, apakah itu seleski ketika sedang seleksi penerimaan masuk universitas, atau ketika seleksi menjadi karyawan disebuah perusahaan, dan seleksi lain yang sejenis, tentu sangat manusiawi jika ketika prosesnya merasa nervous. Karena nervous merupakan hal yang manusiawi, maka yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara mengelolanya agar nervous tidak menjadikan Anda minder untuk mengikuti seleksi. Berikut saya ingin berbagi sedikit pengalaman yang saya dapatkan ketika mengikuti sebuah ajang seleksi, sengaja ditulis tujuannya untuk menenangkan perasaan diri sendiri dan memastikan agar saya merasa baik-baik saja ketika menghadapi kondisi yang membuat nervous. Perasaan nervous muncul secara alamiah ketika seseorang sedang berhadapan dengan sebuah kondisi yang tidak biasa, sederhananya karena makan itu adalah aktivitas yang biasa, maka sepertinya jarang kita temukan orang nervous ketika mau makan,